Cari Blog Ini

Sabtu, 24 Maret 2012

Good Bye Love


Good Bye Love
Cerpen, karya : Sintia Rizkha (XI.IPA.1)

            “Melamun terus!! Kesambet ntar loh..” ucap Ana menyadarkan lamunanku. Aku tetap hanya melemparkan senyuman termanisku kearahnya dan kembali berkhayal.
“Masih mikirin cinta monyet lo itu??” ucap Ana kembali bertanya, aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya kembali seraya orang dewasa yang sedang frustasi.
“Chiya..??!!! Jangan bikin orang kesel deh!!” Ana mulai naik darah, tanpa sadar aku mulai tertawa dan memeluk sahabat setiaku itu. Aku mengajaknya turun dari rumah pohon kenangan, yeah kuberi nama seperti itu untuk mengenang kenanganku bersama dia disana.
#Skip
Aku berjalan menuju sebuah ruangan, berjalan dengan lambatnya hingga suara telapak kakiku sendiri tak mampu kudengar. Kubuka pintu ruangan itu dengan amat sangat pelan sehingga tidak menimbulkan suara, kugeledah seisi ruangan. Tak ada satu sudutpun yang aku tinggalkan namun tak ada yang bisa kutemukan. Tiba-tiba mataku tearah kesebuah laci meja, laci yang sering ayah tutup dengan cepat kalau aku masuk keruangan ini dengan tiba-tiba. Segera kubuka laci itu, kosong tak ada apa-apa kecuali selembar foto. Dua orang lelaki paruh baya tersenyum ceria difoto tersebut, aku tahu yang besar adalah ayahku tapi yang disampingnya siapa? Oom Mukiran? Yeah tidak salah lagi dia Oom Mukiran, bukankah dia ayahnya… Aku segera membalik-balik foto tersebut berharap masih ada yang bisa kutemukan. Alamat???
Kuraih gagang telepon tersebut dan segera menekan sebuah nomor yang sudah sangat kuhapal sekali. “Halo?” sapa seorang wanita dari seberang telepon.
“Ana!! Ini gue… Dapet… Dapet An.. gue berhasil…” kataku riang bercampur tangis. Sementara Ana diseberang telepon kebingungan dengan tingkahku.
#Skip
Kuhentikan mobilku tepat didepan sebuah rumah yang sudah terlihat tua, nampaknya aku mengenal rumah itu. Rumah yang dulu sering kukunjungi saat sedang jenuh, rumah tempat dia dibesarkan. Aku melirik Ana yang terduduk disampingku, dari raut wajahnya aku tahu kalau sahabatku ini merasa ragu. Aku segera menatapnya yakin, kemudian beranjak keluar dari dalam mobil dan Ana pun mengikutiku dibelakang. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menemukan dimana tempat bel dipagar tua tersebut. Selang beberapa menit setelah aku menekan bel tersebut keluar seorang wanita paruh baya dari dalam rumah tersebut, wanita yang kira-kira umurnya jauh lebih tua dari ibuku. Wanita yang sangat kukenal dulu. Wanita tersebut mempersilakan aku dan Ana untuk masuk. Tak ada yang berubah dari rumah ini, suasananya masih nampak seperti dulu. Bahkan ayunan dan kursi tamannya tatap sama dan sudah nampak terlihat usam dimakan waktu.
“Oom Mukiran mana tante?” tanyaku memecah keheningan yang tadi sempat tercipta.
“Dia lagi tugas…” jawab tante Ernie ramah, masih sama seperti dulu walaupun dia sudah tua. “Kamu mau minum apa Chiya? Engh.. dan yang satunya?? Maaf siapa yah, tante lupa nanya..”ucapnya lembut sambil tersenyum manis.
“Aku apa aja deh tan, es jeruk kayak dulu juga nggak apa-apa. Ooo kalau dia Ana, temanku, minumnya samain aja dengan aku biar tante nggak repot.” Kataku sambil tersenyum renyah “Oh yah… Bang Zikri mana tante?” lanjutku sambil mencari-cari sosok orang yang kutanyakan itu.
Tante Ernie tampak sangat murung mendengar pertanyaanku itu, aku mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Awalnya tante Ernie hanya diam namun pada akhirnya dia bersedia memberitahuku dimana Bang Zikri kini berada.
“Apa?!! Nggak mungkin tante. Kenapa Bang Zikri bisa berada ditempat seperti itu??”
“Tante nggak punya hak untuk menceritakan semuanya kekamu Chiya, biarlah Zikri yang menjelaskan semuanya nanti setelah kalian bertemu kembali.”
#Skip
Disinilah aku sekarang, disebuah sekolah tepatnya asrama anak-anak nakal. Semua anak yang melakukan onar disekolahannya biasanya dikirimkan orang tuanya kesini untuk di didik, tapi Bang Zikri, apa mungkin orang tuanya mengirim Bang Zikri ketempat seperti ini? Bang Zikri kan bukan anak yang badung.
Kutelusuri koridor demi koridor, mencari kamar Bang Zikri yang katanya terdapat dilantai paling atas. Kutemukan sebuah pintu diujung koridor, kubuka pintu itu dengan perlahan mataku menangkap sosok seorang lelaki yang sedang duduk murung didekat jendela bulat. Cowok tersebut menatap kosong keluar jendela, membuatku jadi ingin menangis saat melihat tatapan itu.
“Bang Zikri…” Ucapku lirih seraya meneteskan air mata sambil berjalan kearahnya “Bang… Bang Zikri kenapa?? Kok bisa ada disini?” lanjutku dan terus mendekatinya dengan air mata yang berlinang dipipiku. Namun cowok itu tetap diam dan hanya menatap kosong kearahku, tatapannya seperti tatapan seorang kriminal beneran.
“Ini aku Bang… Abang inget Chiya kan, cewek cengeng yang suka Abang bela waktu kecil, cewek cengeng yang suka ngerepotinAbang, cewek cengeng yang ingin selalu bersama Bang Zikri” Air mataku semakin berlinang mengucapkan semua kalimat itu, aku berdiri tepat dihadapannya, namun dia tetap saja diam dan menatap kosong kearahku. Aku tak kuat melihat semua itu, aku segera memeluk erat tubuh Bang Zikri, tak berapa lama aku merasakan bahwa Bang Zikri membalas pelukkanku. Ia segera memandangku dan menghapus air mataku, Ia tersenyum seperti tak pernah ada tatapan kosong yang tadi baru saja kulihat.
“Jangan cengeng lagi… kamukan udah janji sama Abang…” ucap Bang Zikri sambil tersenyum padaku. Senyum yang selama ini kucari, Senyum yang selama ini kunanti.
Hari demi hari berlalu. Bang Zikri kembali ceria, orang tua Bang Zikri nampak sangat senang melihat perubahan itu, tapi dilain pihak nampaknya mereka merasa cemas entah karena apa. Belum lagi aku merasa ada yang aneh dari Bang Zikri, dia terlihat semakin kurus dan agak pucat.
#Skip
“Ini apa Bang..” tanyaku ragu sambil memperlihatkan obat-obat yang kutemukan dibawah bantal Bang Zikri pagi tadi saat merapikan kamarnya. Bang Zikri tak menjawab sama sekali, Ia hanya tersenyum sedih bercampur miris melihat obat-obat itu.
“Apa Abang sakit? Abang sakit apa? Kasih tahu Chiya! Apa yang nggak Chiya ketahui..” kataku mulai menangis, aku telah mengecek obat itu kata dokter itu obat penghilang rasa sakit tapi sakit apa? Air mataku semakin mengalir deras. Bang Zikri segera menghapus air mataku dengan kedua tangannya.
“Yeah Chiya.. Abang sakit, aku sakit, aku mengidap kanker otak.” Kata Bang Zikri sambil tetap mencoba tersenyum kepadaku.
“Kenapa Abang nggak Operasi?? Stadium berapa Bang??” kataku lirih sambil menahan air mataku yang ingin mengalir.
“Mama juga pernah kasih saran kayak gitu, tapi Abang menolaknya. Karena Abang tahu kalau Abang dioperasi kemungkinan operasinya sukses sangat kecil karena kondisi abang yang seperti ini, kalau gagal artinya abang nggak bakal bisa nemuin Chiya lagi dan Abang nggak mau itu, Abang nggak bisa melupakan kamu walau hanya sedetikpun.” Ucap Bang Zikri sambil tetap terus mencoba tersenyum. “Huh.. dan sekarang udah stadium empat, haha nggak kerasa yeah…” lanjut Bang Zikri sambil tertawa sendiri, dan aku hanya bisa menangis memeluknya mendengar semua kalimat yang baru saja ia lontarkan.
#Skip
Aku merasa semakin cemas, jantungku berdetak semakin cepat. Kulihat tante Ernie menangis tersedu-sedu di samping Oom Mukiran, keringat dingin mengalir dari tubuhku antara percaya atau tidak orang yang sejak dulu selalu kuat dan terlihat tegar didepanku kini sedang terbaring kaku didalam sana ditolong hidup dengan berbagai alat bantu. Dokter akhirnya keluar dari ruangan itu dan segera memintaku untuk masuk kedalam, aku menoleh kearah tante Ernie dan Oom Mukiran, keduanya mengangguk pertanda kalau mereka mengizinkan aku masuk menemui anak mereka. Aku berjalan perlahan mendekati tempat tidur putih didalam ruangan tersebut. Kulihat Bang Zikri yang sedang terbaring diatasnya dan tersenyum menatapku.
“Abang pasti kuat…” kataku lirih
“Nggak sayang, Abang udah nggak kuat lagi. Abang boleh minta beberapa permintaan nggak sama kamu?” ucap Bang Zikri lemah dan aku pun hanya mengangguk. “Abang minta nanti kalau Abang pergi kamu nggak boleh cengeng lagi, karena Abang udah nggak bisa melindungi kamu. Abang nggak mau melihat kamu disakitin orang lagi.”
“Abang kok ngomong gituh, iya Chiya nggak akan cengeng lagi tapi Abang juga nggak boleh pergi ah.. Abang kuat kok…” kataku sambil tersenyum menahan tangis. Bang Zikri hanya balas tersenyum melihatku.
“Abang mau minta, Engh.. Abang boleh cium kamu nggak? Abang nggak mau first kiss kamu diambil orang, hehe” kata Bang Zikri “Kalau nggak boleh nggak apa-apa kok..Abang..”
Aku segera menutup mulut Bang Zikri, “Abang nggak perlu kebanyakan ngomong, kata siapa nggak boleh..” kataku memotong ucapannya, Bang Zikri tersenyum mendengar ucapanku. Aku mendekatkan wajahku padanya, begitu dekat hingga bibirku menyentuh bibirnya, bibirnya yang terasa amat dingin sekarang. Inilah first kissku, dan aku senang itu kuberikan untuknya. Sebagai hadiah terkhirku.
“Terima kasih… Chiya sayang…” Ucap Bang Zikri yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman yang merekah diwajahnya.
#Skip
Tante Ernie membawaku kebelakang halaman rumahnya, kebawah sebuah pohon yang rindang. Diatasnya terdapat sebuah rumah pohon,rumah pohon yang dulu sering kunaiki bersama Bang Zikri, aku segera memanjat perlahan sambil mengingat semua kenangan dirumah ini. Kulihat sekelilingku masih tetap sama, rumah pohon ini tetap sama seperti dulu. Kutemukan sebuah kotak kayu usam besar, kubuka kotak kayu tersebut. Kado? Kukeluarkan semua kado itu, kubuka satu persatu dari tahun yang paling lama.

Sepatu balet??
16 NOV 2004
Happy Birthday Chiya, sekarang umur kamu udah 9th. Kapan ya kita bisa ketemu lagi ^_^

16 NOV 2005
 Happy Birthday Chiya, nggak kerasa sekarang kamu udah 10th yeah.. Q makin kangen loh ama kamu…semoga kita bisa cepet ketemu…^_^

Begitu juga kartu ucapan tahun-tahun seterusnya, hingga kutemukan sebuah kartu yang berbeda dari yang sebelumnya.

16 NOV 2008
Happy Birthday Chiya, setiap tahun aku mengucapkan harapan yang sama untuk bertemu denganmu. Begitu pula tahun ini, tapi aku mulai ragu setelah dokter memvonisku terkena kanker otak stadium dua. Aku harap aku bisa bertemu denganmu sebelum penyakit ini mengalahkanku..^_^

16 NOV 2010
Happy Birthday Chiya, ini ultah kamu yang ke 15th yeah, wah kamu sekarang pasti udah besar dan makin cantik, kapan ya kita bisa ketemu lagi?? Penyakit ini kini semakin kuat saja, aku ternyata lemah tanpamu. Bahkan aku sekarang udah resmi jadi anak badung, aku memutuskan untuk masuk sekolah khusus, aku nggak mau melihat orang tuaku cemas karena penyakitku. Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh yea.. aku nggak bener-bener nakal kok…^_^

16 NOV 2011
 Happy Birthday Chiya, Akhirnya aku bisa ketemu lagi ama Qmu. Qmu makin cantik ternyata, ini ultah Qmu yang ke 16th dihari ultahmu ini aku akan mengungkapkan perasaanku. Aku mencintaimu Chiya, sejak pertama kita berkelahi karena aku ngintipin kamu latihan balet, hehe Qmu ingetkan… Qmu mukul kepalaku hingga benjol, semenjak itu aku ngerasa kalau kamu beda dari pada yang lain. Tapi aku ragu, kalau nanti Qmu tahu penyakitku apa kamu bakal tetep nerima aku?? Maafkan aku Chiya, karena telah hadir dalam hidupmu, maafkan aku karena telah menyusahkanmu, maaf karena aku telah lancang menyukaimu, maaf karena aku, kamu akan bersedih… berjanjilah agar kamu tidak menangis lagi, berjanjilah saatku pergi kamu akan tetap tersenyum mengiringi kepergianku, berjanjilah agar kamu tetap menjalankan hidupmu walau tanpa aku disimu…
Aku mohon itu… Aku mencintaimu, selalu dan selamanya…
Salam sayang selalu
“Your Love”


Kak… Makasih banget kak… Chiya Juga CINTA ama Bang Zikri, Chiya sayaaaaannnggg banget ama Abang. Didalam hati Chiya selamnya hanya akan ada Bang Zikri seorang, Abang berjuang, bertahan hidup, menolak untuk dioperasi semua hanya karena Aku, hanya karena abang nggak mau ngelupain aku, walau abang udah nggak ada tapi tetap bang Zikri akan selalu ada dihati Chiya, selalu dan selamanya. Aku akan berjuang meneruskan hidup, terus tersenyum, semua kulakukan demi abang… Love You Forever bang zikri…^_^



Love is just like life, its not always easy and doesn’t always bring happiness.
But when we don’t stop living, why should we stop loving.



L O V E … L= Lake of sorrows … O= Ocean of tears …
V= valley of death … E= End of life …



If you ask for how long I will be loving you?? My answer is I don’t know…
Coz I really don’t know, which is longer.. FOREVER or ALWAYS…

2 komentar: