Cari Blog Ini

Sabtu, 24 Maret 2012

Good Bye Love


Good Bye Love
Cerpen, karya : Sintia Rizkha (XI.IPA.1)

            “Melamun terus!! Kesambet ntar loh..” ucap Ana menyadarkan lamunanku. Aku tetap hanya melemparkan senyuman termanisku kearahnya dan kembali berkhayal.
“Masih mikirin cinta monyet lo itu??” ucap Ana kembali bertanya, aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya kembali seraya orang dewasa yang sedang frustasi.
“Chiya..??!!! Jangan bikin orang kesel deh!!” Ana mulai naik darah, tanpa sadar aku mulai tertawa dan memeluk sahabat setiaku itu. Aku mengajaknya turun dari rumah pohon kenangan, yeah kuberi nama seperti itu untuk mengenang kenanganku bersama dia disana.
#Skip
Aku berjalan menuju sebuah ruangan, berjalan dengan lambatnya hingga suara telapak kakiku sendiri tak mampu kudengar. Kubuka pintu ruangan itu dengan amat sangat pelan sehingga tidak menimbulkan suara, kugeledah seisi ruangan. Tak ada satu sudutpun yang aku tinggalkan namun tak ada yang bisa kutemukan. Tiba-tiba mataku tearah kesebuah laci meja, laci yang sering ayah tutup dengan cepat kalau aku masuk keruangan ini dengan tiba-tiba. Segera kubuka laci itu, kosong tak ada apa-apa kecuali selembar foto. Dua orang lelaki paruh baya tersenyum ceria difoto tersebut, aku tahu yang besar adalah ayahku tapi yang disampingnya siapa? Oom Mukiran? Yeah tidak salah lagi dia Oom Mukiran, bukankah dia ayahnya… Aku segera membalik-balik foto tersebut berharap masih ada yang bisa kutemukan. Alamat???
Kuraih gagang telepon tersebut dan segera menekan sebuah nomor yang sudah sangat kuhapal sekali. “Halo?” sapa seorang wanita dari seberang telepon.
“Ana!! Ini gue… Dapet… Dapet An.. gue berhasil…” kataku riang bercampur tangis. Sementara Ana diseberang telepon kebingungan dengan tingkahku.
#Skip
Kuhentikan mobilku tepat didepan sebuah rumah yang sudah terlihat tua, nampaknya aku mengenal rumah itu. Rumah yang dulu sering kukunjungi saat sedang jenuh, rumah tempat dia dibesarkan. Aku melirik Ana yang terduduk disampingku, dari raut wajahnya aku tahu kalau sahabatku ini merasa ragu. Aku segera menatapnya yakin, kemudian beranjak keluar dari dalam mobil dan Ana pun mengikutiku dibelakang. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menemukan dimana tempat bel dipagar tua tersebut. Selang beberapa menit setelah aku menekan bel tersebut keluar seorang wanita paruh baya dari dalam rumah tersebut, wanita yang kira-kira umurnya jauh lebih tua dari ibuku. Wanita yang sangat kukenal dulu. Wanita tersebut mempersilakan aku dan Ana untuk masuk. Tak ada yang berubah dari rumah ini, suasananya masih nampak seperti dulu. Bahkan ayunan dan kursi tamannya tatap sama dan sudah nampak terlihat usam dimakan waktu.
“Oom Mukiran mana tante?” tanyaku memecah keheningan yang tadi sempat tercipta.
“Dia lagi tugas…” jawab tante Ernie ramah, masih sama seperti dulu walaupun dia sudah tua. “Kamu mau minum apa Chiya? Engh.. dan yang satunya?? Maaf siapa yah, tante lupa nanya..”ucapnya lembut sambil tersenyum manis.
“Aku apa aja deh tan, es jeruk kayak dulu juga nggak apa-apa. Ooo kalau dia Ana, temanku, minumnya samain aja dengan aku biar tante nggak repot.” Kataku sambil tersenyum renyah “Oh yah… Bang Zikri mana tante?” lanjutku sambil mencari-cari sosok orang yang kutanyakan itu.
Tante Ernie tampak sangat murung mendengar pertanyaanku itu, aku mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Awalnya tante Ernie hanya diam namun pada akhirnya dia bersedia memberitahuku dimana Bang Zikri kini berada.
“Apa?!! Nggak mungkin tante. Kenapa Bang Zikri bisa berada ditempat seperti itu??”
“Tante nggak punya hak untuk menceritakan semuanya kekamu Chiya, biarlah Zikri yang menjelaskan semuanya nanti setelah kalian bertemu kembali.”
#Skip
Disinilah aku sekarang, disebuah sekolah tepatnya asrama anak-anak nakal. Semua anak yang melakukan onar disekolahannya biasanya dikirimkan orang tuanya kesini untuk di didik, tapi Bang Zikri, apa mungkin orang tuanya mengirim Bang Zikri ketempat seperti ini? Bang Zikri kan bukan anak yang badung.
Kutelusuri koridor demi koridor, mencari kamar Bang Zikri yang katanya terdapat dilantai paling atas. Kutemukan sebuah pintu diujung koridor, kubuka pintu itu dengan perlahan mataku menangkap sosok seorang lelaki yang sedang duduk murung didekat jendela bulat. Cowok tersebut menatap kosong keluar jendela, membuatku jadi ingin menangis saat melihat tatapan itu.
“Bang Zikri…” Ucapku lirih seraya meneteskan air mata sambil berjalan kearahnya “Bang… Bang Zikri kenapa?? Kok bisa ada disini?” lanjutku dan terus mendekatinya dengan air mata yang berlinang dipipiku. Namun cowok itu tetap diam dan hanya menatap kosong kearahku, tatapannya seperti tatapan seorang kriminal beneran.
“Ini aku Bang… Abang inget Chiya kan, cewek cengeng yang suka Abang bela waktu kecil, cewek cengeng yang suka ngerepotinAbang, cewek cengeng yang ingin selalu bersama Bang Zikri” Air mataku semakin berlinang mengucapkan semua kalimat itu, aku berdiri tepat dihadapannya, namun dia tetap saja diam dan menatap kosong kearahku. Aku tak kuat melihat semua itu, aku segera memeluk erat tubuh Bang Zikri, tak berapa lama aku merasakan bahwa Bang Zikri membalas pelukkanku. Ia segera memandangku dan menghapus air mataku, Ia tersenyum seperti tak pernah ada tatapan kosong yang tadi baru saja kulihat.
“Jangan cengeng lagi… kamukan udah janji sama Abang…” ucap Bang Zikri sambil tersenyum padaku. Senyum yang selama ini kucari, Senyum yang selama ini kunanti.
Hari demi hari berlalu. Bang Zikri kembali ceria, orang tua Bang Zikri nampak sangat senang melihat perubahan itu, tapi dilain pihak nampaknya mereka merasa cemas entah karena apa. Belum lagi aku merasa ada yang aneh dari Bang Zikri, dia terlihat semakin kurus dan agak pucat.
#Skip
“Ini apa Bang..” tanyaku ragu sambil memperlihatkan obat-obat yang kutemukan dibawah bantal Bang Zikri pagi tadi saat merapikan kamarnya. Bang Zikri tak menjawab sama sekali, Ia hanya tersenyum sedih bercampur miris melihat obat-obat itu.
“Apa Abang sakit? Abang sakit apa? Kasih tahu Chiya! Apa yang nggak Chiya ketahui..” kataku mulai menangis, aku telah mengecek obat itu kata dokter itu obat penghilang rasa sakit tapi sakit apa? Air mataku semakin mengalir deras. Bang Zikri segera menghapus air mataku dengan kedua tangannya.
“Yeah Chiya.. Abang sakit, aku sakit, aku mengidap kanker otak.” Kata Bang Zikri sambil tetap mencoba tersenyum kepadaku.
“Kenapa Abang nggak Operasi?? Stadium berapa Bang??” kataku lirih sambil menahan air mataku yang ingin mengalir.
“Mama juga pernah kasih saran kayak gitu, tapi Abang menolaknya. Karena Abang tahu kalau Abang dioperasi kemungkinan operasinya sukses sangat kecil karena kondisi abang yang seperti ini, kalau gagal artinya abang nggak bakal bisa nemuin Chiya lagi dan Abang nggak mau itu, Abang nggak bisa melupakan kamu walau hanya sedetikpun.” Ucap Bang Zikri sambil tetap terus mencoba tersenyum. “Huh.. dan sekarang udah stadium empat, haha nggak kerasa yeah…” lanjut Bang Zikri sambil tertawa sendiri, dan aku hanya bisa menangis memeluknya mendengar semua kalimat yang baru saja ia lontarkan.
#Skip
Aku merasa semakin cemas, jantungku berdetak semakin cepat. Kulihat tante Ernie menangis tersedu-sedu di samping Oom Mukiran, keringat dingin mengalir dari tubuhku antara percaya atau tidak orang yang sejak dulu selalu kuat dan terlihat tegar didepanku kini sedang terbaring kaku didalam sana ditolong hidup dengan berbagai alat bantu. Dokter akhirnya keluar dari ruangan itu dan segera memintaku untuk masuk kedalam, aku menoleh kearah tante Ernie dan Oom Mukiran, keduanya mengangguk pertanda kalau mereka mengizinkan aku masuk menemui anak mereka. Aku berjalan perlahan mendekati tempat tidur putih didalam ruangan tersebut. Kulihat Bang Zikri yang sedang terbaring diatasnya dan tersenyum menatapku.
“Abang pasti kuat…” kataku lirih
“Nggak sayang, Abang udah nggak kuat lagi. Abang boleh minta beberapa permintaan nggak sama kamu?” ucap Bang Zikri lemah dan aku pun hanya mengangguk. “Abang minta nanti kalau Abang pergi kamu nggak boleh cengeng lagi, karena Abang udah nggak bisa melindungi kamu. Abang nggak mau melihat kamu disakitin orang lagi.”
“Abang kok ngomong gituh, iya Chiya nggak akan cengeng lagi tapi Abang juga nggak boleh pergi ah.. Abang kuat kok…” kataku sambil tersenyum menahan tangis. Bang Zikri hanya balas tersenyum melihatku.
“Abang mau minta, Engh.. Abang boleh cium kamu nggak? Abang nggak mau first kiss kamu diambil orang, hehe” kata Bang Zikri “Kalau nggak boleh nggak apa-apa kok..Abang..”
Aku segera menutup mulut Bang Zikri, “Abang nggak perlu kebanyakan ngomong, kata siapa nggak boleh..” kataku memotong ucapannya, Bang Zikri tersenyum mendengar ucapanku. Aku mendekatkan wajahku padanya, begitu dekat hingga bibirku menyentuh bibirnya, bibirnya yang terasa amat dingin sekarang. Inilah first kissku, dan aku senang itu kuberikan untuknya. Sebagai hadiah terkhirku.
“Terima kasih… Chiya sayang…” Ucap Bang Zikri yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman yang merekah diwajahnya.
#Skip
Tante Ernie membawaku kebelakang halaman rumahnya, kebawah sebuah pohon yang rindang. Diatasnya terdapat sebuah rumah pohon,rumah pohon yang dulu sering kunaiki bersama Bang Zikri, aku segera memanjat perlahan sambil mengingat semua kenangan dirumah ini. Kulihat sekelilingku masih tetap sama, rumah pohon ini tetap sama seperti dulu. Kutemukan sebuah kotak kayu usam besar, kubuka kotak kayu tersebut. Kado? Kukeluarkan semua kado itu, kubuka satu persatu dari tahun yang paling lama.

Sepatu balet??
16 NOV 2004
Happy Birthday Chiya, sekarang umur kamu udah 9th. Kapan ya kita bisa ketemu lagi ^_^

16 NOV 2005
 Happy Birthday Chiya, nggak kerasa sekarang kamu udah 10th yeah.. Q makin kangen loh ama kamu…semoga kita bisa cepet ketemu…^_^

Begitu juga kartu ucapan tahun-tahun seterusnya, hingga kutemukan sebuah kartu yang berbeda dari yang sebelumnya.

16 NOV 2008
Happy Birthday Chiya, setiap tahun aku mengucapkan harapan yang sama untuk bertemu denganmu. Begitu pula tahun ini, tapi aku mulai ragu setelah dokter memvonisku terkena kanker otak stadium dua. Aku harap aku bisa bertemu denganmu sebelum penyakit ini mengalahkanku..^_^

16 NOV 2010
Happy Birthday Chiya, ini ultah kamu yang ke 15th yeah, wah kamu sekarang pasti udah besar dan makin cantik, kapan ya kita bisa ketemu lagi?? Penyakit ini kini semakin kuat saja, aku ternyata lemah tanpamu. Bahkan aku sekarang udah resmi jadi anak badung, aku memutuskan untuk masuk sekolah khusus, aku nggak mau melihat orang tuaku cemas karena penyakitku. Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh yea.. aku nggak bener-bener nakal kok…^_^

16 NOV 2011
 Happy Birthday Chiya, Akhirnya aku bisa ketemu lagi ama Qmu. Qmu makin cantik ternyata, ini ultah Qmu yang ke 16th dihari ultahmu ini aku akan mengungkapkan perasaanku. Aku mencintaimu Chiya, sejak pertama kita berkelahi karena aku ngintipin kamu latihan balet, hehe Qmu ingetkan… Qmu mukul kepalaku hingga benjol, semenjak itu aku ngerasa kalau kamu beda dari pada yang lain. Tapi aku ragu, kalau nanti Qmu tahu penyakitku apa kamu bakal tetep nerima aku?? Maafkan aku Chiya, karena telah hadir dalam hidupmu, maafkan aku karena telah menyusahkanmu, maaf karena aku telah lancang menyukaimu, maaf karena aku, kamu akan bersedih… berjanjilah agar kamu tidak menangis lagi, berjanjilah saatku pergi kamu akan tetap tersenyum mengiringi kepergianku, berjanjilah agar kamu tetap menjalankan hidupmu walau tanpa aku disimu…
Aku mohon itu… Aku mencintaimu, selalu dan selamanya…
Salam sayang selalu
“Your Love”


Kak… Makasih banget kak… Chiya Juga CINTA ama Bang Zikri, Chiya sayaaaaannnggg banget ama Abang. Didalam hati Chiya selamnya hanya akan ada Bang Zikri seorang, Abang berjuang, bertahan hidup, menolak untuk dioperasi semua hanya karena Aku, hanya karena abang nggak mau ngelupain aku, walau abang udah nggak ada tapi tetap bang Zikri akan selalu ada dihati Chiya, selalu dan selamanya. Aku akan berjuang meneruskan hidup, terus tersenyum, semua kulakukan demi abang… Love You Forever bang zikri…^_^



Love is just like life, its not always easy and doesn’t always bring happiness.
But when we don’t stop living, why should we stop loving.



L O V E … L= Lake of sorrows … O= Ocean of tears …
V= valley of death … E= End of life …



If you ask for how long I will be loving you?? My answer is I don’t know…
Coz I really don’t know, which is longer.. FOREVER or ALWAYS…

My Story and Mapel IPA (MIPA): I’m a Shy Girl

My Story and Mapel IPA (MIPA): I’m a Shy Girl

I’m a Shy Girl


I’m a Shy Girl
Karya : Sintia Rizkha

            “Friska… lo kenapa lagi?” tanya Raina best friend Friska dengan mata sendunya.
            “Gue nggak kenapa-napa kok..” Ucap Friska sambil mencoba tersenyum pada Raina. Raina memeluk Friska dengan hangat, kemudian berbisik lembut ditelinga Friska
Keep Spirit honey. Apa pun masalah lo, jangan takut buat cerita ke gue..”
***

            Friska Damaranti, anak SMA 3 Harapan Bangsa. Ia duduk dikelas XII.IPA sekarang. Ada cerita lucu plus aneh tentang Friska. Percaya gak percaya gadis imut dan manis ini orangnya mudah jatuh cinta mudah patah hati dan yang lebih anehnya lagi dia selalu jatuh hati sama cowok yang duduk tepat dibelakang bangkunya. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya sejak ia duduk dibangku SMP.
            Saat kelas satu SMP, Friska suka sama Angga yang duduk tepat dibelakang bangkunya, namun hal itu hanya sesaat saja sampai dia naik kekalas dua dan Angga ternyata pindah sekolah karena Ayahnya dipindah tugaskan. Saat dikelas dua SMP Hengky menggantikan tempat Angga dibangku belakang Friska sekaligus dihati Friska. Cowok yang cool plus pinter seperti Hengky tentu aja banyak yang naksir, apalagi tuh anak adalah siswa kebanggaan sekolah jadi Friska harus memendam perasaannya dan hanya mencoba mengagumi Hengky diam-diam bahkan Friska sudah memutuskan untuk mencoba menghilangkan Hengky dari benaknya. Tapi ternyata Dewi Fortuna nggak berpihak padanya, pas kelas tiga SMP ternyata dia sekelas lagi ama Hengky dan semakin akrab sama cowok smart itu. Hal itu tentu aja membuat Friska makin sulit ngelupain Hengky tapi dia juga nggak berani bilang ke Hengky tentang perasaannya, sampai akhirnya mereka lulus SMP dan Hengky memutuskan ngelanjutin study-nya ke Inggris - ikut nyokapnya – Friska masih saja enggan mengungkapkan perasaannya karena baginya banyak teman-temannya yang lebih menyukai Hengky dari pada dia. SKIP.
            Saat kelas satu SMA, Friska kembali menemukan cinta baru. Namanya Rifqy dan seperti biasa Friska jatuh hati pada Rifqy yang duduk tepat dibelakangnya. Rifqy anak futsal, tampangnya cool dengan gayanya yang selalu santai dan rambutnya yang agak cepak - aturan dari sekolah – membuatnya jadi kayak bersinar-sinar dimata Friska belum lagi dia orangnya juga smart loh. Emm…. Fansnya nggak perlu ditanya lagi.. segudang ciinnn… mulai dari yang seangkatan ampek para senior udah pada ngantri jadi ceweknya. (Dalam bayangan saking cakepnya penulis juga mau jadi ceweknya, haha). Awalnya Friska nggak mau putus asa, banyak fans bukan berarti nggak ada kesempatan untuk dia kan? Tapi sayang pikiran itu hanya bertahan sebentar, ternyata Emil -salah satu temennya- juga suka ama Rifqy dan yang lebih biki Friska down, Emil dan Rifky jadian. Hal itu sukses membuat Friska benar-benar menarik diri dari medan pertempuran. Dia nggak mau merebut cowok yang disukai temennya sendiri, dan akhirnya Friska memutuskan untuk mebuang jauh harapannya. SKIP.
            @ Aula, Pembagian kelas.
            “Sob lo dikelas berapa?” tanya Raini
            “Gue tetep di IPA 1.. lo?”
            “Ahyaikss… yes.. kita sekelas lagi.” Ucap Raini riang sambil menirukan gaya tertawanya guffi di film donald bebek.
            Kisah Cinta Friska dikelas XI SMA nggak perlu dibahas, karena Friska nggak jatuh hati sama siapa-siapa saat dia dikelas XI. Tapi hal itu bukan berarti kebiasaannya udah ilang melainkan karena yang duduk dibelakangnya itu seorang cewek. Nggak mungkinlah Friska suka sama cewek it’s impossible guys.., kalau sampai suka nggak waras itu namanya.
            Dikelasnya yang baru ini Friska duduk dibangku paling pojok barisan meja guru dibagian nomor dua dari belakang. Nggak ada cewek maupun cowok yang duduk dibangku belakang Friska, bukan karena tuh bangku angker cuy.. tapi karena jumlah siswa dikelas Friska cuma 26 sedangkan bangkunya ada 32 itu aja alasannya.
            Minggu Pagi dikediaman rumah Friska, para anak-anak Pramuka lagi pada ngumpul mau bikin kejutan buat salah seorang anggota – Edward – yang kebetulan akan berulang tahun dua hari lagi.
            “Fris, katanya lo lagi deket ama edward ya?” tanya Restu
            “Kalau iya kenapa? Nggak boleh?” jawab Friska santai.
            “Tobat Fris, dia udah punya cewek tau!” ucap Restu meyakinkan.
            “Gua kan Cuma deket doang. Emang nggak boleh ya?”
            “Ya kalau Cuma sekedar deket sebagai temen doang sih boleh.” Ucap Restu ragu.
            Edward seorang pria kuruslah yang lumayan cute, berkulit coklat karna keseringan kemah sama ikut acara-acara lainnya yang bikin kulit terbakar pokoknya. Dari kelas XI tadi Friska deket banget sama edward, karena mereka sama-sama ikut Pramuka. Kemana-mana Friska selalu bareng ama Edward, hal itu yang tanpa sadar menumbuhkan benih-benih cinta dihati Friska. Tapi apakah juga demikian dengan Edward? Toh nyatanya kini Edward bersama wanita lain, Angelin namanya. Gadis yang aktif di organisasi Osis dan lumayan cerdas lah, juga anak satu kelas ama Edward telah lebih dulu merebut hati Edward. Mereka baru aja jadian akhir bulan november tadi, dan sekarang udah bulan januari kira-kira udah sekitar tiga bulan lah mereka pacaran. Friska awalnya sudah merelakan Edward untuk menjadi milik Angelin, tapi kejadian saat tahun baru kemarin membuatnya semakin menyukai Edward. Saat tahun baru tadi Friska bersama dengan Edward diperkemahan, mereka sedang mengikuti Raicab soalnya. Pada saat itu Friska amat senang karena bisa menikmati kembang api bersama Edward, karena itulah dia berinisiatif untuk membuatkan pesta kejutan buat ultah Edward lusa nanti.

            Senin sore,
            “Vin lo lihat Edward gak?” Tanya Friska pada alvin yang lagi asik mojok sama Sintia.
            “Ngak tau!” Jawab Alvin cuek.
            “Ah, elo vin pacaran terus ama sintia. Gua serius, lo lihat nggak?” ucap Friska lagi.
            “Ah elo Fris ganggu gua aja, gua lagi pas-pasnya ama Yayang gua tercinta. Noh sono, dipojok. Tuh dia baru dateng, habis jemput elin tuh.” Ucap Alvin dongkol sambil menunjuk kearah seorang cowok memakai motor ninja. Pemandangan mesra itu benar-benar membuat hati Friska serasa dicabik-cabik, dia tahu Edward memang pacarnya Angelin jadi walaupun sakit dia Cuma bisa diam.
            “Napa lo? patah hati? Cemburu..?” Ucap Alvin nakal.
            “Sayang nggak bleh gituh ahh.. nggak baik tau” ucap Sintia – pacarnya Alvin – menasehati Alvin.
            “Iya-iya sayangku...” ucap Alvin gemes sambil mencubit pipi sintia “Sorry ya Fris..” Lanjut Alvin tapi Friska langsung nyelonong pergi aja, dia nggak tahan lihat kemesraan pasangan serasi yang udah bener-bener saling cinta mati itu.
           
            @UKS
            “Guys… lihat deh photo ayank gua cute abis yaahh?? Yang moto pinter banget deh, tau aja posisi cute ayank gua.” Ucap Angelin seraya memamerkan photo pacarnya kepada semua orang.
            “Haha… makasih itu gua yang moto loh..” Sahut Friska yang sukses membuat Angelin terkaget, bukan kaget karna apa. Tapi Edward pernah bilang padanya kalau yang ngambil photo itu wiwid, so artinya edward bohong dong..?? Angelin segera keluar dari ruangan UKS dengan wajah yang merah padam, semua orang hanya merasa heran melihat respon Angelin
            Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Friska tiba juga, hari ini dia akan memberikan pesta kejutan kepada Edward. Semalaman Friska tidak bisa tidur karena saking nggak sabarnya menunggu hari ini datang juga.
            “Fris… Lo tau nggak? Kemarin Elin cekcok ama Edward loh…” Ucap Raina sambil meneteskan NaOH ke dalam Tabung Elemeyer.
            “Masa? Gua nggak tau tuh… Emang mereka berantem karena apa? Bukannya kemarin mereka masih mesra-mesraan boncengan gitu?” Ucap Friska heran sambil mengamati perubahan warna yang terjadi didalam tabung.
            “Katanya sih gara-gara photo…”
            “Masa? Ah udah ah nggak perlu kita bahas. Mending sekarang fokus sama percobaan kita, entar kalau ancur bisa tambah kecil nilai kita.” Kalimat terakhir yang diucapkan Friska membuat Raina segera menutup mulutnya. SKIP

            “Guys udah pada siap belum? Tuh Edward udah hampir kelar diamukin ama Kak Cipta.” Ucap Wiwid sambil meloncat-loncat gajebo gitu.
            “Beres… yuk mari masuk.” Ucap Gita melihat Kak Cipta yang udah kasih kode.
            “Serbu…” Kode dari Kak Cipta membuat semua orang yang udah gatel dari tadi menjadi bergairah, semua orang menyirami Edward dengan air yang sudah mereka campur dengan berbagai hal seperti Lumpur, kembang tujuh rupa(sesajen kali), telur mentah, teh basi, endapan santan yg baunya semriwing, dan beberapa hal menjijikan lainnya.
            “Happy Birthday to you… Happy Birthday to you… Happy Birthday... Happy Birthday… Happy Birthday… to.. you..” Friska muncul dengan membawakan kue ulang tahun untuk Edward yang sudah dibuatnya sendiri.
            “Waahh… Gila, gokil, apaan nih yang kalian siram ke gua? Baunya… behh sedapnya bukan main. Makasih allLove you so much..” Ucap Edward bahagia. Mereka segera meminta Edward untuk menip lilin dan segera memotong kuenya, awalnya anak-anak ingin melemparkan kue itu kemuka Edward juga tapi Friska berskeras menahannya. Gimana nggak lah tuh kue bikinan dia, sayangkan kalau nggak dimakan.
            “Ini semua pasti ide lo kan Fris…?? Dasar lo ini jahil bener… tapi makasih banget ya..” Ucap Edward sambil tersenyum manis ke Friska, senyum yang bener-bener bikin Friska makin seneng.
            “Fris, ikut gua bentar. Ada yang harus kita omongin.” Edward segera menarik lengan Friska dan mengajaknya ke belakang.
            “Ed, maungapain kita kesini?” tanya Friska heran. Edward segera duduk didepan keran air, Dia membasuh kedua tanganya, kemudian mengusap mukanya. Frisa mengikuti Edward dan duduk tepat disebelah Edward.
            “Fris, gua makasih banget lo udah ngelakuin ini semua Cuma buat gua. Maaf Fris, gua tau kok kalau lo sebenernya suka ama gua kan..” Ucap Edward kemudian menarik nafas seraya menahan kalimat selanjutnya yang ingin ia ucapkan.
“Kata siapa? Nggak ahh… gosip itu…” Bantah Friska, menidakkan pertanyaan Edward walau sebenarnya hati Friska ingin menjawab iya.
            “Udahlah Fris.. lo nggak perlu bohong ama gua..” Edward kembali menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Tapi kalau emang nggak ya syukur deh, berarti nggak bakal susah buat lo untuk bersikap biasa aja ke gua. Gua tau maksud lo baik, tapi maksud baik lo ini nggak bisa diterima ama Angelin.”
Serasa disambar petir, diseruduk banteng, terus diuntalkan oleh seorang raksasa karna nggak enak dimakan. Hati Friska sungguh hancur, seharusnya dia udah bisa menebak semua ini. Edward sangat menyayangi Angelin, seharusnya Friska nggak ngelakuin ini semua karena pasti akan membuat Angelin marah.
“Fris… bisa nggak kita bersikap biasa aja? Gua nggak mau Angelin sampai salah paham dan akhirnya marah ama gua, gua nggak mau kehilangan Angelin Fris… lo tau kan betapa sayangnya gua ama dia..”
“Huft… gua sadar kok Ed, gua tau. Ya udah lo tenang aja. Mulai sekarang Angelin nggak bakal marah-marah lagi sama lo Cuma gara-gara gua. Gua do’ain moga lo langgeng deh ama dia.” Jawab Friska dengan senyum dibibirnya, senyum yang sangat dipaksa. “Gua duluan ya..” Pamit Friska kemudian segera meninggalkan Edward yang masih memanggil namanya. Friska ingin sekali menoleh, tapi Ia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya kepada Edward. Dia tak sanggup memperlihatkan wajahnya yang kini dipenuhi oleh bulir-bulir air hangat yang menetes dari pelupuk-pelupuk matanya.

Seminggu sudah berlalu dari hari perayaan ulang tahun Edward, dan Friska masih saja bermurung durja. Dia tak pernah lagi mencoba mendekati Edward, menegur, apa lagi sampai bercanda ria seperti biasanya. Friska hanya dapat menghindar, menghindar, dan menghindar dari Edward. Beberapa kali Edward mencoba mencarinya kekelas, tapi Friska selalu meminta kepada teman-temannya untuk mengatakan kalau dia lagi nggak dikelas. Begitu pun hari-hari selanjutnya tetap sama, Friska terus menghindar dari Eward. Semua Telepon dan SMS dari Edward tidak pernah dia gubris sedikitpun.
Ternyata aksi Friska menjauhi Edward berlangsung amat sangat lama, Perpisahan sudah didepan mata. Mereka akan segera lulus dan meninggalkan sekolah itu, menuju kejenjang yang lebih tinggi lagi yaitu bangku kuliah. Namun Friska masih saja menghindari Edward, dia nggak pernah mau denger lagi kabar tentang Edward ataupun gosip-gosip tentang Edward. Raina juga nggak pernah lagi mengungkit tentang Edward dehadapan Friska karena dia tahu betapa sakitnya perasaan Friska saat ini. Raina hanya berharap semoga ini nggak terus berlangsung, dia nggak tega lihat sahabatnya tersenyum dalam kesedihan seperti ini.

“Fris… lo nggak gabung kedalem?” tanya Raina
“Nggak ah males, gua lagi nggak mood.” Jawab Friska yang masih asik duduk dibangku taman sekolah mereka, ditemani cahaya rembulan dan lampu-lampu kecil warna-warni yang menghiasi penjuru sekolah.
Hari ini, hari dimana mereka akan membuka jalan baru, hari dimana kehidupan putih abu-abu mereka akan berakhir. Masa putih abu-abu yang penuh dengan hal-hal yang kalau diingat-ingat bisa bikin mereka tertawa, kesal, haru, sedih, benci, tapi hanya satu rasa yang pasti akan membuat mereka tersiksa yaitu rindu. Rindu dengan para gurunya – apalagi yang killer, rindu dengan suasana kelas – riuh kegaduhan, rindu dengan teman-teman kita yang unik-unik di SMA, rindu dengan mata pelajarannya, rindu dengan para mantan kita di SMA, pokoknya all about senior high scholl bakal kita kangenin banget.
Sebuah mawar merah yang kini berada tepat dihadapan wajahnya Friska membuat Ia kembali dari alam bawah sadarnya. Friska tertegun melihat seorang pria yang mengenakan topeng telah berjongkok dihadapannya.
“Fris,, please forgive me…” Ucap sang pria sambil memberikan mawar merah itu kepada Friska.
“Lo siapa yaa??” tanya Friska dengan seribu tanda tanya besar dikepalanya.
“Masa lo nggak ngenalin gua?” jawab pria tersebut, dan Friska hanya menggeleng. “Ya ampun Fris, ini gua Edward… Tega lo masa udah lupa ama gua? Belum juga selesai acara perpisahan lo udah lupa ama gua.” Ucap pria tersebut yang ternyata adalah Edward sambil membuka topengnya.
“Owh… sorry Ed gua nggak tau, ya udah gua kedalem dulu ya.” Pamit Friska, tapi Edward segera menahan kepergian Friska.
“Seharusnya gua ngelakuin ini dari dulu ke elo, seharusnya tempo hari aku nggak ngebiarin kamu pergi. Maafin gua Fris, gua salah.” Ucap Edward seraya menggenggam erat tangan Friska.
“Lo nggak salah kok Ed.. gua ngerti lo kan sayang banget ama Angelin. Gua sadar kok yang gua lakuin kemarin-kemarin itu salah, gua nggak seharusnya gitu.” Ucap Friska sambil tetap mencoba tersenyum. “Udah ya gua masuk dulu” Friska melepaskan genggaman tangan Edward dan beranjak pergi. Melihat Friska yang semakin menjauh Edward segera berdiri.
“FRISKA… GUA-SUKA-SAMA-LO…” teriak Edward yang jelas-jelas menghentikan langkah Friska. “Gua sadar, gua sangat kehilangan lo saat lo ngejauhin gua. Gua sadar lo ternyata udah memiliki arti lebih dari pada temen dalam hati gua. Gua nggak bisa kehilangan lo Fris… Maafin gua karena gua nggak ngertiin perasaan lo..”
Antara percaya atau nggak, Friska nggak menyangka kalau Edward bakalan bilang suka kedia. Bukannya dia bilang kemarin kalau dia sayang banget ama Angelin dan nggak mau kehilangan Angelin? Friska memberanika dirinya untuk berbalik kebelakang.
“Terus Angelin?” tanya Friska ragu.
“Angelin?? Lo nggak tau apa kalau gua udah lama putus ama dia?” Ucap Edward heran.
Friska hanya menggeleng.
“Haha… gua udah dua bulan yang lalu putus ama dia, lo nggak tau? Kemana aja lo selama ini?” Edward hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. “So gimana lo mau jadi pacar gua?” tanya Edward lagi.
“Emmmmm….. Gimana ya…?” Friska berfikir keras.
“Udah jawab iya aja… kapan lagi dapet cowok sekeren gua.” Ujar Edward menggoda.
“Idih… PD banget nih orang.” Ucap Friska kemudian segera menghampiri Edward. “Karena lo udah PD banget, guahargai deh kePD’an lo.” Lanjut Friska.
“Soo….??? Jawabannya??? Mau nih??” tanya Edward ragu.
“Menurut EL….???”
“Yess… kita jadian nih..?? gua janji nggak bakal nyakitin lo.” Ucap Edward girang
”Jangan Cuma mengumbar janji, tapi beri bukti…” tantang Friska.
“Ok… that’s my promise..”









~The End~