I’m a Shy Girl
Karya : Sintia Rizkha
“Friska… lo kenapa lagi?” tanya Raina best friend Friska dengan mata sendunya.
“Gue nggak kenapa-napa kok..” Ucap Friska sambil mencoba tersenyum pada Raina. Raina memeluk Friska dengan hangat, kemudian berbisik lembut ditelinga Friska
“Keep Spirit honey. Apa pun masalah lo, jangan takut buat cerita ke gue..”
***
Friska Damaranti, anak SMA 3 Harapan Bangsa. Ia duduk dikelas XII.IPA sekarang. Ada cerita lucu plus aneh tentang Friska. Percaya gak percaya gadis imut dan manis ini orangnya mudah jatuh cinta mudah patah hati dan yang lebih anehnya lagi dia selalu jatuh hati sama cowok yang duduk tepat dibelakang bangkunya. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya sejak ia duduk dibangku SMP.
Saat kelas satu SMP, Friska suka sama Angga yang duduk tepat dibelakang bangkunya, namun hal itu hanya sesaat saja sampai dia naik kekalas dua dan Angga ternyata pindah sekolah karena Ayahnya dipindah tugaskan. Saat dikelas dua SMP Hengky menggantikan tempat Angga dibangku belakang Friska sekaligus dihati Friska. Cowok yang cool plus pinter seperti Hengky tentu aja banyak yang naksir, apalagi tuh anak adalah siswa kebanggaan sekolah jadi Friska harus memendam perasaannya dan hanya mencoba mengagumi Hengky diam-diam bahkan Friska sudah memutuskan untuk mencoba menghilangkan Hengky dari benaknya. Tapi ternyata Dewi Fortuna nggak berpihak padanya, pas kelas tiga SMP ternyata dia sekelas lagi ama Hengky dan semakin akrab sama cowok smart itu. Hal itu tentu aja membuat Friska makin sulit ngelupain Hengky tapi dia juga nggak berani bilang ke Hengky tentang perasaannya, sampai akhirnya mereka lulus SMP dan Hengky memutuskan ngelanjutin study-nya ke Inggris - ikut nyokapnya – Friska masih saja enggan mengungkapkan perasaannya karena baginya banyak teman-temannya yang lebih menyukai Hengky dari pada dia. SKIP.
Saat kelas satu SMA, Friska kembali menemukan cinta baru. Namanya Rifqy dan seperti biasa Friska jatuh hati pada Rifqy yang duduk tepat dibelakangnya. Rifqy anak futsal, tampangnya cool dengan gayanya yang selalu santai dan rambutnya yang agak cepak - aturan dari sekolah – membuatnya jadi kayak bersinar-sinar dimata Friska belum lagi dia orangnya juga smart loh. Emm…. Fansnya nggak perlu ditanya lagi.. segudang ciinnn… mulai dari yang seangkatan ampek para senior udah pada ngantri jadi ceweknya. (Dalam bayangan saking cakepnya penulis juga mau jadi ceweknya, haha). Awalnya Friska nggak mau putus asa, banyak fans bukan berarti nggak ada kesempatan untuk dia kan? Tapi sayang pikiran itu hanya bertahan sebentar, ternyata Emil -salah satu temennya- juga suka ama Rifqy dan yang lebih biki Friska down, Emil dan Rifky jadian. Hal itu sukses membuat Friska benar-benar menarik diri dari medan pertempuran. Dia nggak mau merebut cowok yang disukai temennya sendiri, dan akhirnya Friska memutuskan untuk mebuang jauh harapannya. SKIP.
@ Aula, Pembagian kelas.
“Sob lo dikelas berapa?” tanya Raini
“Gue tetep di IPA 1.. lo?”
“Ahyaikss… yes.. kita sekelas lagi.” Ucap Raini riang sambil menirukan gaya tertawanya guffi di film donald bebek.
Kisah Cinta Friska dikelas XI SMA nggak perlu dibahas, karena Friska nggak jatuh hati sama siapa-siapa saat dia dikelas XI. Tapi hal itu bukan berarti kebiasaannya udah ilang melainkan karena yang duduk dibelakangnya itu seorang cewek. Nggak mungkinlah Friska suka sama cewek it’s impossible guys.., kalau sampai suka nggak waras itu namanya.
Dikelasnya yang baru ini Friska duduk dibangku paling pojok barisan meja guru dibagian nomor dua dari belakang. Nggak ada cewek maupun cowok yang duduk dibangku belakang Friska, bukan karena tuh bangku angker cuy.. tapi karena jumlah siswa dikelas Friska cuma 26 sedangkan bangkunya ada 32 itu aja alasannya.
Minggu Pagi dikediaman rumah Friska, para anak-anak Pramuka lagi pada ngumpul mau bikin kejutan buat salah seorang anggota – Edward – yang kebetulan akan berulang tahun dua hari lagi.
“Fris, katanya lo lagi deket ama edward ya?” tanya Restu
“Kalau iya kenapa? Nggak boleh?” jawab Friska santai.
“Tobat Fris, dia udah punya cewek tau!” ucap Restu meyakinkan.
“Gua kan Cuma deket doang. Emang nggak boleh ya?”
“Ya kalau Cuma sekedar deket sebagai temen doang sih boleh.” Ucap Restu ragu.
Edward seorang pria kuruslah yang lumayan cute, berkulit coklat karna keseringan kemah sama ikut acara-acara lainnya yang bikin kulit terbakar pokoknya. Dari kelas XI tadi Friska deket banget sama edward, karena mereka sama-sama ikut Pramuka. Kemana-mana Friska selalu bareng ama Edward, hal itu yang tanpa sadar menumbuhkan benih-benih cinta dihati Friska. Tapi apakah juga demikian dengan Edward? Toh nyatanya kini Edward bersama wanita lain, Angelin namanya. Gadis yang aktif di organisasi Osis dan lumayan cerdas lah, juga anak satu kelas ama Edward telah lebih dulu merebut hati Edward. Mereka baru aja jadian akhir bulan november tadi, dan sekarang udah bulan januari kira-kira udah sekitar tiga bulan lah mereka pacaran. Friska awalnya sudah merelakan Edward untuk menjadi milik Angelin, tapi kejadian saat tahun baru kemarin membuatnya semakin menyukai Edward. Saat tahun baru tadi Friska bersama dengan Edward diperkemahan, mereka sedang mengikuti Raicab soalnya. Pada saat itu Friska amat senang karena bisa menikmati kembang api bersama Edward, karena itulah dia berinisiatif untuk membuatkan pesta kejutan buat ultah Edward lusa nanti.
Senin sore,
“Vin lo lihat Edward gak?” Tanya Friska pada alvin yang lagi asik mojok sama Sintia.
“Ngak tau!” Jawab Alvin cuek.
“Ah, elo vin pacaran terus ama sintia. Gua serius, lo lihat nggak?” ucap Friska lagi.
“Ah elo Fris ganggu gua aja, gua lagi pas-pasnya ama Yayang gua tercinta. Noh sono, dipojok. Tuh dia baru dateng, habis jemput elin tuh.” Ucap Alvin dongkol sambil menunjuk kearah seorang cowok memakai motor ninja. Pemandangan mesra itu benar-benar membuat hati Friska serasa dicabik-cabik, dia tahu Edward memang pacarnya Angelin jadi walaupun sakit dia Cuma bisa diam.
“Napa lo? patah hati? Cemburu..?” Ucap Alvin nakal.
“Sayang nggak bleh gituh ahh.. nggak baik tau” ucap Sintia – pacarnya Alvin – menasehati Alvin.
“Iya-iya sayangku...” ucap Alvin gemes sambil mencubit pipi sintia “Sorry ya Fris..” Lanjut Alvin tapi Friska langsung nyelonong pergi aja, dia nggak tahan lihat kemesraan pasangan serasi yang udah bener-bener saling cinta mati itu.
@UKS
“Guys… lihat deh photo ayank gua cute abis yaahh?? Yang moto pinter banget deh, tau aja posisi cute ayank gua.” Ucap Angelin seraya memamerkan photo pacarnya kepada semua orang.
“Haha… makasih itu gua yang moto loh..” Sahut Friska yang sukses membuat Angelin terkaget, bukan kaget karna apa. Tapi Edward pernah bilang padanya kalau yang ngambil photo itu wiwid, so artinya edward bohong dong..?? Angelin segera keluar dari ruangan UKS dengan wajah yang merah padam, semua orang hanya merasa heran melihat respon Angelin
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu oleh Friska tiba juga, hari ini dia akan memberikan pesta kejutan kepada Edward. Semalaman Friska tidak bisa tidur karena saking nggak sabarnya menunggu hari ini datang juga.
“Fris… Lo tau nggak? Kemarin Elin cekcok ama Edward loh…” Ucap Raina sambil meneteskan NaOH ke dalam Tabung Elemeyer.
“Masa? Gua nggak tau tuh… Emang mereka berantem karena apa? Bukannya kemarin mereka masih mesra-mesraan boncengan gitu?” Ucap Friska heran sambil mengamati perubahan warna yang terjadi didalam tabung.
“Katanya sih gara-gara photo…”
“Masa? Ah udah ah nggak perlu kita bahas. Mending sekarang fokus sama percobaan kita, entar kalau ancur bisa tambah kecil nilai kita.” Kalimat terakhir yang diucapkan Friska membuat Raina segera menutup mulutnya. SKIP
“Guys udah pada siap belum? Tuh Edward udah hampir kelar diamukin ama Kak Cipta.” Ucap Wiwid sambil meloncat-loncat gajebo gitu.
“Beres… yuk mari masuk.” Ucap Gita melihat Kak Cipta yang udah kasih kode.
“Serbu…” Kode dari Kak Cipta membuat semua orang yang udah gatel dari tadi menjadi bergairah, semua orang menyirami Edward dengan air yang sudah mereka campur dengan berbagai hal seperti Lumpur, kembang tujuh rupa(sesajen kali), telur mentah, teh basi, endapan santan yg baunya semriwing, dan beberapa hal menjijikan lainnya.
“Happy Birthday to you… Happy Birthday to you… Happy Birthday... Happy Birthday… Happy Birthday… to.. you..” Friska muncul dengan membawakan kue ulang tahun untuk Edward yang sudah dibuatnya sendiri.
“Waahh… Gila, gokil, apaan nih yang kalian siram ke gua? Baunya… behh sedapnya bukan main. Makasih all… Love you so much..” Ucap Edward bahagia. Mereka segera meminta Edward untuk menip lilin dan segera memotong kuenya, awalnya anak-anak ingin melemparkan kue itu kemuka Edward juga tapi Friska berskeras menahannya. Gimana nggak lah tuh kue bikinan dia, sayangkan kalau nggak dimakan.
“Ini semua pasti ide lo kan Fris…?? Dasar lo ini jahil bener… tapi makasih banget ya..” Ucap Edward sambil tersenyum manis ke Friska, senyum yang bener-bener bikin Friska makin seneng.
“Fris, ikut gua bentar. Ada yang harus kita omongin.” Edward segera menarik lengan Friska dan mengajaknya ke belakang.
“Ed, maungapain kita kesini?” tanya Friska heran. Edward segera duduk didepan keran air, Dia membasuh kedua tanganya, kemudian mengusap mukanya. Frisa mengikuti Edward dan duduk tepat disebelah Edward.
“Fris, gua makasih banget lo udah ngelakuin ini semua Cuma buat gua. Maaf Fris, gua tau kok kalau lo sebenernya suka ama gua kan..” Ucap Edward kemudian menarik nafas seraya menahan kalimat selanjutnya yang ingin ia ucapkan.
“Kata siapa? Nggak ahh… gosip itu…” Bantah Friska, menidakkan pertanyaan Edward walau sebenarnya hati Friska ingin menjawab iya.
“Udahlah Fris.. lo nggak perlu bohong ama gua..” Edward kembali menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Tapi kalau emang nggak ya syukur deh, berarti nggak bakal susah buat lo untuk bersikap biasa aja ke gua. Gua tau maksud lo baik, tapi maksud baik lo ini nggak bisa diterima ama Angelin.”
Serasa disambar petir, diseruduk banteng, terus diuntalkan oleh seorang raksasa karna nggak enak dimakan. Hati Friska sungguh hancur, seharusnya dia udah bisa menebak semua ini. Edward sangat menyayangi Angelin, seharusnya Friska nggak ngelakuin ini semua karena pasti akan membuat Angelin marah.
“Fris… bisa nggak kita bersikap biasa aja? Gua nggak mau Angelin sampai salah paham dan akhirnya marah ama gua, gua nggak mau kehilangan Angelin Fris… lo tau kan betapa sayangnya gua ama dia..”
“Huft… gua sadar kok Ed, gua tau. Ya udah lo tenang aja. Mulai sekarang Angelin nggak bakal marah-marah lagi sama lo Cuma gara-gara gua. Gua do’ain moga lo langgeng deh ama dia.” Jawab Friska dengan senyum dibibirnya, senyum yang sangat dipaksa. “Gua duluan ya..” Pamit Friska kemudian segera meninggalkan Edward yang masih memanggil namanya. Friska ingin sekali menoleh, tapi Ia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya kepada Edward. Dia tak sanggup memperlihatkan wajahnya yang kini dipenuhi oleh bulir-bulir air hangat yang menetes dari pelupuk-pelupuk matanya.
Seminggu sudah berlalu dari hari perayaan ulang tahun Edward, dan Friska masih saja bermurung durja. Dia tak pernah lagi mencoba mendekati Edward, menegur, apa lagi sampai bercanda ria seperti biasanya. Friska hanya dapat menghindar, menghindar, dan menghindar dari Edward. Beberapa kali Edward mencoba mencarinya kekelas, tapi Friska selalu meminta kepada teman-temannya untuk mengatakan kalau dia lagi nggak dikelas. Begitu pun hari-hari selanjutnya tetap sama, Friska terus menghindar dari Eward. Semua Telepon dan SMS dari Edward tidak pernah dia gubris sedikitpun.
Ternyata aksi Friska menjauhi Edward berlangsung amat sangat lama, Perpisahan sudah didepan mata. Mereka akan segera lulus dan meninggalkan sekolah itu, menuju kejenjang yang lebih tinggi lagi yaitu bangku kuliah. Namun Friska masih saja menghindari Edward, dia nggak pernah mau denger lagi kabar tentang Edward ataupun gosip-gosip tentang Edward. Raina juga nggak pernah lagi mengungkit tentang Edward dehadapan Friska karena dia tahu betapa sakitnya perasaan Friska saat ini. Raina hanya berharap semoga ini nggak terus berlangsung, dia nggak tega lihat sahabatnya tersenyum dalam kesedihan seperti ini.
“Fris… lo nggak gabung kedalem?” tanya Raina
“Nggak ah males, gua lagi nggak mood.” Jawab Friska yang masih asik duduk dibangku taman sekolah mereka, ditemani cahaya rembulan dan lampu-lampu kecil warna-warni yang menghiasi penjuru sekolah.
Hari ini, hari dimana mereka akan membuka jalan baru, hari dimana kehidupan putih abu-abu mereka akan berakhir. Masa putih abu-abu yang penuh dengan hal-hal yang kalau diingat-ingat bisa bikin mereka tertawa, kesal, haru, sedih, benci, tapi hanya satu rasa yang pasti akan membuat mereka tersiksa yaitu rindu. Rindu dengan para gurunya – apalagi yang killer, rindu dengan suasana kelas – riuh kegaduhan, rindu dengan teman-teman kita yang unik-unik di SMA, rindu dengan mata pelajarannya, rindu dengan para mantan kita di SMA, pokoknya all about senior high scholl bakal kita kangenin banget.
Sebuah mawar merah yang kini berada tepat dihadapan wajahnya Friska membuat Ia kembali dari alam bawah sadarnya. Friska tertegun melihat seorang pria yang mengenakan topeng telah berjongkok dihadapannya.
“Fris,, please forgive me…” Ucap sang pria sambil memberikan mawar merah itu kepada Friska.
“Lo siapa yaa??” tanya Friska dengan seribu tanda tanya besar dikepalanya.
“Masa lo nggak ngenalin gua?” jawab pria tersebut, dan Friska hanya menggeleng. “Ya ampun Fris, ini gua Edward… Tega lo masa udah lupa ama gua? Belum juga selesai acara perpisahan lo udah lupa ama gua.” Ucap pria tersebut yang ternyata adalah Edward sambil membuka topengnya.
“Owh… sorry Ed gua nggak tau, ya udah gua kedalem dulu ya.” Pamit Friska, tapi Edward segera menahan kepergian Friska.
“Seharusnya gua ngelakuin ini dari dulu ke elo, seharusnya tempo hari aku nggak ngebiarin kamu pergi. Maafin gua Fris, gua salah.” Ucap Edward seraya menggenggam erat tangan Friska.
“Lo nggak salah kok Ed.. gua ngerti lo kan sayang banget ama Angelin. Gua sadar kok yang gua lakuin kemarin-kemarin itu salah, gua nggak seharusnya gitu.” Ucap Friska sambil tetap mencoba tersenyum. “Udah ya gua masuk dulu” Friska melepaskan genggaman tangan Edward dan beranjak pergi. Melihat Friska yang semakin menjauh Edward segera berdiri.
“FRISKA… GUA-SUKA-SAMA-LO…” teriak Edward yang jelas-jelas menghentikan langkah Friska. “Gua sadar, gua sangat kehilangan lo saat lo ngejauhin gua. Gua sadar lo ternyata udah memiliki arti lebih dari pada temen dalam hati gua. Gua nggak bisa kehilangan lo Fris… Maafin gua karena gua nggak ngertiin perasaan lo..”
Antara percaya atau nggak, Friska nggak menyangka kalau Edward bakalan bilang suka kedia. Bukannya dia bilang kemarin kalau dia sayang banget ama Angelin dan nggak mau kehilangan Angelin? Friska memberanika dirinya untuk berbalik kebelakang.
“Terus Angelin?” tanya Friska ragu.
“Angelin?? Lo nggak tau apa kalau gua udah lama putus ama dia?” Ucap Edward heran.
Friska hanya menggeleng.
“Haha… gua udah dua bulan yang lalu putus ama dia, lo nggak tau? Kemana aja lo selama ini?” Edward hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. “So gimana lo mau jadi pacar gua?” tanya Edward lagi.
“Emmmmm….. Gimana ya…?” Friska berfikir keras.
“Udah jawab iya aja… kapan lagi dapet cowok sekeren gua.” Ujar Edward menggoda.
“Idih… PD banget nih orang.” Ucap Friska kemudian segera menghampiri Edward. “Karena lo udah PD banget, guahargai deh kePD’an lo.” Lanjut Friska.
“Soo….??? Jawabannya??? Mau nih??” tanya Edward ragu.
“Menurut EL….???”
“Yess… kita jadian nih..?? gua janji nggak bakal nyakitin lo.” Ucap Edward girang
”Jangan Cuma mengumbar janji, tapi beri bukti…” tantang Friska.
“Ok… that’s my promise..”
~The End~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar