Just Love YOU
karya: Sintia Rizkha
***
BAB 1
“Eri…
ayo bangun!! Kamu Nggak malu sama Matahari apa? Sayang…”
Hening…
“Eri…
kamu nggak sekolah apa sayang!!”
Masih
tetap hening…
“ERI!!!
Roy udah jemput tuh!!” terdengar suara mommy setengah berteriak.
“Hugh…
okey Mom, I know.” Jawab Eri pada akhirnya.
Eri
segera beranjak dari atas tempat tidurnya yang empuk, menuju kamar mandi. Dia
menatap dirinya sendiri dicermin, “Ini
udah tahun ke delepan” ucap Eri tak lain untuk dirinya sendiri.
Hanya
butuh waktu 30 menit bagi Eri untuk bersiap-siap. Iya mengambil rotinya dan
langsung dilahapnya dengan dua kali gigitan saja.
“Eri…
makannya pelan-pelan dong sayang…” ucap Mommy namun Eri tak menjawab apa-apa,
dia hanya melemparkan senyuman manisnya kepada Mommy tercintanya itu.
“Sayang..
Mommy hari ini harus segera balik lagi ke Amrik. Ada kerjaan disana, dan lagi
mommy nggak enak ninggalin papymu sendirian disana. Kamu nggak masalahkan
kalau mommy tinggal.” Sambung Mommy, Eri pun hanya dapat menarik nafas panjang
dan mengeluarkannya kembali seraya berfikir inilah
mommy selalu saja pergi. Tapi itu bukan masalah bagi Eri karena Ia sudah
terbiasa dengan kesibukan orang tuanya.
“Ehmm..
Nggak masalah kok. Eri pergi dulu ya Mom…” Kata Eri seraya mencium punggung
tangan Mommynya.
Eri
berangkat dengan Roy, cowok yang baru beberapa minggu ini menjadi pacarnya. Dia
terpaksa dijemput Roy karena mobil Eri harus nginep dibengkel karena dipakai
Fery, kakaknya untuk ajang balap liar. Entah apa yang sudah mendorong dirinya
untuk meminjamkan mobil sport kesayangannya itu kepada Fery.
“Udah
lama nunggunya?” tanya Eri pada Roy yang sedang asik melihat ikan-ikan di
Aquarium.
“Nggak
kok…” jawab Roy sambil tersenyum ringan.
“Owh..
kalau gitu Let’s go beibh…!!”
J☻J
Setibanya
disekolah SMA Purna Bangsa.
“Thanks say… Duluan ya…” kata Eri dan
segera beranjak meninggalkan Roy.
“Widih…
Siapa lagi tuh??” kata Ferry, her best
friend.
“Ooohh
itu… Roy.” Jawab Eri polos.
“Roy??
Anak kuliahan??”
“Bukan,
anak SMK 23”
“Dino
tau nggak??” Tanya Ferry, namun Eri cuek bebek aja dari tadi.
“Wooii??
Gua nanya cuii,, Dino tau nggak??” tanya Ferry lagi sambil melipat kedua
tangannya didepan dada.
“Engh…
I don’t know… Udah ahh nanya terus…
yuk masuk.” Eri dan Ferry berjalan berdua menuju kelas mereka.
Eri,
adalah seorang gadis yang suuaaangat cantik, mukanya rada sedikit Indo… cewek
bernama lengkap Seri Routh ini adalah
seorang playgirl sejati, dia sudah
mendalami profesi ini sejak duduk di bangku SMP kelas satu. Sebenarnya dari SD
Eri sudah jadi pujaan banyak cowok tapi baru berniat pacaran saat masuk SMP.
Gimana nggak jadi pujaan para cowok, cewek keturunan China-Sumatera bertampang imut
dengan tinggi badan 170 cm, rambut lurus panjang hampir sepinggul-lah sedikit
ikal, lesung pipi yang selalu muncul tiap dia tersenyum menambah pesona gadis
cantik ini, belum lagi kulitnya yang putih dan mulus kayak susu bikin siapa aja
nggak bisa berkedip kalau lagi liat dia, belum lagi otaknya yang lumayan smart
kalau lagi terdesak saat ulangan, tapi kalau hari-hari biasa dia lebih sering
lemotnya.. eittss jangan salah.. sikap lemot plus tampang innocent dan selera
humornya inilah yang paling banyak disuka para cowok-cowok disekelilingnya.
Kalau dihitung-hitung mantannya sudah melebihi angka lima puluhan udah mau
nginjek angka seratus… wiihh seharusnya dibikin reword buat Eri, memecahkan rekor sebagai cewek yang punya mantan
terbnyak.
Eri
nggak pernah lama menjalani hubungan, yang paling beruntung adalah Dodi, dia
bisa berpacaran dengan Eri hampir satu bulan. Tapi sayangnya sebenarnya saat
berpacaran dengan cowok itu Eri juga sedang menjalankan hubungan dengan
beberapa cowok lain. Begitu pula sekarang, Dia menjalin hubungan dengan
beberapa cowok sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Meskipun
para cowok tahu itu, entah mengapa mereka tetap berbondong-bondong mengejarnya,
maybe karena walaupun Eri seorang playgirl tapi dia nggak sama seperti PG yang
lain, yang bisa dengan mudah didapatin dan dipegang-pegang. Untuk mendapatkan
Eri mereka diberi tes terlebih dahulu oleh cewek ini barulah setelah itu
dipertimbangkan cocok atau tidak dan sampai sekarang cowok-cowok yang menjabati
posisi sebagai pacar Eri belum ada yang pernah berhasil menyentuh tubuhnya,
sedikit pun. Ingat ya sekali lagi SEDIKITPUN.
Terkadang Eri merasa nggak enak ama mantan-mantannya, karena secara tidak
langsung Eri mungkin telah menyakiti sedikit banyak perasaan mereka. Tapi Eri
selalu mencoba menepis semua rasa bersalah itu, toh cowok-cowok itu yang
ngejer-ngejer Eri dan lagi dia nggak berniat menyakiti siapapun, baginya dengan
punya pacar rasa kesepiannya yang selalu ditinggal keluarga menjadi sedikit
berkurang.
Satu-satunya
cowok yang dapat terus menempel dengannya adalah Ferry Hamilson – biasa dipanggil Ferry, teman Eri sejak SMP. Cowok ini benar-benar beruntung, bisa terus
berjalan bersama Eri dan bisa memegang Eri (cuma
pegang yang biasa… sahabat..)
“Eri..
serius.. Doni gimana?? Kasian tau dia..” kata Ferry
“Ah
bawel… Dia udah gua putusin seminggu yang lalu!!” jawab Eri malas.
“Haahhh!!!
Serius lo!! Dan sekarang lo udah dapat yang baru!! Eriiii lo nggak pernah tobat
ya?? Haha… gua aja udah tobat…” kata Ferry membanggakan dirinya sendiri yang
sudah berhasil menghentikan sifat playboynya
setelah bertemu dengan jessie Rachelia
teman Eri dari kecil, kata orang. Inget ini kata orang bukan kata Ferry.
“Aaahh…
ntar aja tobatnya tunggu gua udah bener-bener nemuin cowok idaman gua.” Kata
Eri.
“Waduuhhh…
Pagi-pagi gini udah jalan berdua… cemburu loh gua…” kata jessie yang tiba-tiba
menengahi Eri dan Ferry.
“Ya
ampun honey… Jangan salah paham gitu dong…” kata Ferry kepada Jessie.
“Haha…
siapa juga yang salpam ama elo honey… gua cuma kidding doang kok… gua kenal kok ama Eri..”
“Gua
juga kenal ama lo…” jawab Eri garing.
“Haha…
Eri… Gimana… lo terima nggak Mike??”
“Masih
masa percobaan…”
“WHATT!!
Udah hampir dua minggu dan lo bilang masih masa percobaan?? Emang bener-bener
gila lo… Tega bener… Lo jangan-jangan…”
Eri segera menutup mulut ember Jessie, Dia tahu Jessie selalu nggak bisa
menahan ucapannya setiap didekat Ferry.
“Jessie!!
Jangan ember sekarang!!” bisik Eri sangat pelan, begitu pelannya sehingga dia
yakin bahwa hanya dia, Jessie dan Tuhan yang tahu.
“Iya..
iya.. sorry Eriku cuyung… gua nggak bakal ember.. gua cuma mau bilang
jangan-jangan lo cuma lagi mainin dia ya??” bisik Jessie tidak kalah pelannya
dengan Eri.
“Owwhh…
Ya kali…” jawabku datar.
“Hah??
Really??” Tanya jessie.
“Iya
Eci cuyung… kalau lo nggak setuju gua terus mainin dia… hari ini bakal gua
tinggalin kok dia.” Kata Eri dan langsung menarik kedua tangan temannya itu.
Eri
dan Ferry mengantar jessie kekelasnya terlebih dahulu baru mereka berdua menuju
kelas mereka. Jessie berbeda kelas dengan mereka, Eri dan Ferry duduk dikelas
IA II, sedangkan Jessie dikelas IS III. Sebenarnya Jessie juga anak IA, tapi
dia malah lebih memilih IS sebab IS adalah jiwanya dan keluarganya kata Jessie
saat ditanya alasannya memilih IS.
J☻J
Sepulang
sekolah, digudang belakang.
“Sorry
Mike… tapi sepertinya kita nggak cocok. Lo nggak tahu gua, so mending kita berteman aja.” Kata Eri dengan senyuman manisnya,
ini adalah cara Eri meninggalkan korban-korbannya.
“Tapi
Ri…”
“Mike…
Cinta nggak bisa dipaksa… lo pasti bakalan dapet cewek yang lebih baik dari gua.”
Kata Eri sambil memasang senyum manisnya plus
tampang Innocentnya yang selalu sukses membuat para cowok jadi nggak tega ama
dia.
“Lalu
kenapa lo nerima gua?!!” jawab Mike sambil mencoba tetap lembut.
“Gua
nggak pernah nerima elo?? Kan lo masih dalam masa percobaan, dan ternyata
hasilnya nggak cocok… sorry banget ya Mike… lo boleh marah ama gua kok kalau lo
mau…” jawab Eri lagi kali ini dengan tampang sok bersalah.
“Ohh…
gitu ya Er… Gua nggak marah kok ama lo, mana mungkin gua marah ama cewek manis
kayak lo. Maybe emang kita nggak
cocok.” Ucap Mike dengan senyum kecewa. “Ehmm..But, maybe.. engh do you want to make a friend with me?
Yaeh.. kalau temenan boleh dong sapa tau aja tiba-tiba lo berubah fikiran.”
Lanjutnya sambil tetap tersenyum pada Eri.
Eri
hanya tersenyum pertanda bahwa ia setujuh-setujuh aja.
Cinta
sesuatu yang sangat sulit dimengerti, kata orang cinta itu indah tapi ada juga
yang mengatakan cinta itu sakit, kalau dibuku cinta butuh pengorbanan. Bagi Eri
semua hal itu omong kosong, karena gadis manis itu sebenarnya belum pernah
mengerti arti cinta sesungguhnya, bagi Eri cinta itu adalah sebuah permainan. Ia
selalu berfikir Apa itu cinta dan mengapa ada cinta?? Sepenting apakah cinta?
Toh cinta cuma bikin cewek nangis kalau putus?? Cinta juga nggak bisa dimakan??
“Eri…
lo hari ini ada kerjaan?? Kalau nggak ada ikut jalan ama gua dan Jessie aja…
mau???” tawar Ferry.
“Ahh..
nggak ahh Fer. Gua mau langsung pulang aja, badan gua rasanya nggak enak banget.”
Jawab Eri.
“Lo
nggak apa-apa kan Ri?? Kalau nggak enak badan ya udah biar gua anter lo balik
ya??” tawar Ferry cemas.
“Nggak
perlu, gua bisa balik sendiri. Mending lo langsung nemuin eci, dia pasti lagi
nungguin lo.” kata Eri santai.
“Hmm…
eah udah deh kalau itu mau lo. gua nurut deh…” Ucap Ferry malas tapi tetap saja
ia tidak bisa mengabaikan Eri. Walau demikian Ferry nggak pernah ngebantah
ucapan Eri. Baru beberapa langkah Ferry berjalan namun tiba-tiba saja semua
siswa disana berlari kearah parkiran mobil. Rasa cemas bercampur takut kini
mulai berkecamuk dihati Ferry, ia pun langsung menerobos kerumanan orang-orang
itu ternyata benar firasatnya. Eri terkapar pingsan tak sadarkan diri, Ferry
langsung saja mengangkat tubuh Eri dan memasukkannya kedalam mobilnya.
Sepanjang
perjalanan Hp Ferry terus saja berdering namun Ia tak memperdulikan hal itu
sama sekali, ia terus saja menyetir mobil dengan kencang.
“Er…
gua harap lo nggak kenapa-napa..” harap Ferry seraya menunggu dokter keluar
dari ruangan Eri.
Lagi-lagi
Hp Ferry berdering akhirnya dengan perasaan sedikit dongkol ia merogoh Hp yang
berada didalam saku seragamnya, Jessie.. ternyata sang pacarlah yang sedari
tadi meneleponnya tanpa henti.
“Halo..”
ucap Ferry dengan malas.
“Halo,
say lo dimana? Kok nggak jemput-jemput gua? Lo lupa ama acara nonton kita? Napa
nggak calling gua? Gua dari tadi nungguin lo ampek lumutan…..” Jessie terus saja
menghujani Ferry dengan rentetan pertanyaan yang panjangnya udah kayak kereta
api ekspress.
“Sorry
gua sibuk, lo balik aja. Oh ya gua nggak bisa jemput lo sekarang so mending lo
naik taksi or lo calling aja supir lo” Ucap Ferry cepat kemudian segera menekan
tombol EndCall.
“Apakah
anda keluarga pasien ini?” Ucap dokter.
“Engh…
saya.. saya pacarnya dok.” Jawab Ferry asal. Bukan asal sih, dia emang pacarnya
Eri tapi dulu sebelum putus jadi nggak salah dong.
“Owh..
apa tidak ada keluarganya?” ucap dokter sambil menepuk-nepuk pundak Ferry.
“Di
Jakarta dia cuma tingggal ama pembantu-pembantunya doang. Orang tuanya baru aja
balik ke Amrik pagi tadi. Kakaknya lagi nggak di Jakarta, memang kenapa dok?”
Ucap Ferry.
“Oh,
kalau begitu ya sudah. Nak Ferry saja…” Bingung kenapa tuh dokter tau nama Ferry
padahal dia belum ngasih tau namanya… ya jelas aja dokter itu tau nama Ferry
kan itu rumah sakit milik bokapnya Ferry yang nantinya bakal diwarisin kedia so
semua suster ama dokter disana kenal ama dia.
“Sebenernya
ada apa dengan Eri dok?” tanya Ferry.
“Tenang..
Tidak ada yang berbahaya kok. Nampaknya pacar anda cuma kelelahan saja, mungkin
dia punya sedikit masalah dengan jam tidurnya atau mungkin lagi banyak
fikiran.” Jelas Dokter.
“Syukurlah
kalau Eri nggak kenapa-napa!” kata Ferry lega “Apa saya sudah boleh menjenguk
Eri, Dok?” Lanjutnya.
“Oh
tentu saja, silakan.” Kata dokter mempersilakan Ferry.
Pintu
ruangan itu terbuka, sayup-sayup Eri melihat seorang cowok tampan - yang rada
Indo juga – masuk kedalam ruangannya.
“Dokter bilang apa?” Tanya Eri pada
cowok tersebut.
“Kata dokter lo cuma kecapean doang,
dokter juga bilang lo kurang tidur. Ngapain aja sih lo tiap malam ampek kurang
tidur kayak gini.. Ngeronda??” Ucap cowok tersebut asal.
“Ah elo Fer… bisa aja.. gua nggak
ngeronda.. jaga lilin, biasa jagain eci biar nggak digebukin masa.. hehe” Eri
ikut-ikutan ngaco. “Gua udah boleh pulang kan?” tanya Eri namun Ferry nggak
ngejawab, dia hanya asik tertawa hal itu bikin Eri dongkol.
“Haha.. iya-iya… lo udah boleh pulang
sekarang…” ucap Ferry. Jawaban itu membuat Eri menjadi lega karena dengan
begitu dia nggak perlu nginep di Rumah sakit, Eri kan takut ama rumah sakit.
Apalagi kalau malam-malam.. iihh nyeremin…
J☻J
Sesampainya
dirumah.
“Hati-hati,
lo kan masih sakit.” Ujar Ferry sambil membukakan pintu mobilnya buat Eri.
“Iya-iya,
dasar bawel lo. Tenang aje.” Ucap Eri sambil tersenyum manis pada Ferry.
“Engh.. Eci gimana? Dia pasti marah kalau tau lo nggak jadi nonton ama dia because of me.” Lanjut Eri kali ini
dengan mimik kecewa yang tersirat diwajahnya.
“Hugh..
udah kayak gini masih aja mikirin orang. Bagi gua yang penting lo nggak
kenapa-napa.” Ucap Ferry sambil membelai lembut rambut Eri, kemudian berpamitan
pulang.
“Oh
iya kata dokter lo nggak boleh kecapean” teriak Ferry dari dalam mobilnya, Eri
hanya tersenyum melihat kelakuan Ferry.
To be continued...
