Cari Blog Ini

Selasa, 04 September 2012

Just Love You

Just Love YOU

karya: Sintia Rizkha

 

***
BAB 1




“Eri… ayo bangun!! Kamu Nggak malu sama Matahari apa? Sayang…”
Hening…
“Eri… kamu nggak sekolah apa sayang!!”
Masih tetap hening…
“ERI!!! Roy udah jemput tuh!!” terdengar suara mommy setengah berteriak.
“Hugh… okey Mom, I know.” Jawab Eri pada akhirnya.
Eri segera beranjak dari atas tempat tidurnya yang empuk, menuju kamar mandi. Dia menatap dirinya sendiri dicermin, “Ini udah tahun ke delepan” ucap Eri tak lain untuk dirinya sendiri.
Hanya butuh waktu 30 menit bagi Eri untuk bersiap-siap. Iya mengambil rotinya dan langsung dilahapnya dengan dua kali gigitan saja.
“Eri… makannya pelan-pelan dong sayang…” ucap Mommy namun Eri tak menjawab apa-apa, dia hanya melemparkan senyuman manisnya kepada Mommy tercintanya itu.
“Sayang.. Mommy hari ini harus segera balik lagi ke Amrik. Ada kerjaan disana, dan lagi mommy nggak enak ninggalin papymu sendirian disana. Kamu nggak masalahkan kalau mommy tinggal.” Sambung Mommy, Eri pun hanya dapat menarik nafas panjang dan mengeluarkannya kembali seraya berfikir inilah mommy selalu saja pergi. Tapi itu bukan masalah bagi Eri karena Ia sudah terbiasa dengan kesibukan orang tuanya.
“Ehmm.. Nggak masalah kok. Eri pergi dulu ya Mom…” Kata Eri seraya mencium punggung tangan Mommynya.
Eri berangkat dengan Roy, cowok yang baru beberapa minggu ini menjadi pacarnya. Dia terpaksa dijemput Roy karena mobil Eri harus nginep dibengkel karena dipakai Fery, kakaknya untuk ajang balap liar. Entah apa yang sudah mendorong dirinya untuk meminjamkan mobil sport kesayangannya itu kepada Fery.
“Udah lama nunggunya?” tanya Eri pada Roy yang sedang asik melihat ikan-ikan di Aquarium.
“Nggak kok…” jawab Roy sambil tersenyum ringan.
“Owh.. kalau gitu Let’s go beibh…!!”

JJ

Setibanya disekolah SMA Purna Bangsa.
Thanks say… Duluan ya…” kata Eri dan segera beranjak meninggalkan Roy.
“Widih… Siapa lagi tuh??” kata Ferry, her best friend.
“Ooohh itu… Roy.” Jawab Eri polos.
“Roy?? Anak kuliahan??”
“Bukan, anak SMK 23”
“Dino tau nggak??” Tanya Ferry, namun Eri cuek bebek aja dari tadi.
Wooii?? Gua nanya cuii,, Dino tau nggak??” tanya Ferry lagi sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
“Engh… I don’t know… Udah ahh nanya terus… yuk masuk.” Eri dan Ferry berjalan berdua menuju kelas mereka.
Eri, adalah seorang gadis yang suuaaangat cantik, mukanya rada sedikit Indo… cewek bernama lengkap Seri Routh ini adalah seorang playgirl sejati, dia sudah mendalami profesi ini sejak duduk di bangku SMP kelas satu. Sebenarnya dari SD Eri sudah jadi pujaan banyak cowok tapi baru berniat pacaran saat masuk SMP. Gimana nggak jadi pujaan para cowok, cewek keturunan China-Sumatera bertampang imut dengan tinggi badan 170 cm, rambut lurus panjang hampir sepinggul-lah sedikit ikal, lesung pipi yang selalu muncul tiap dia tersenyum menambah pesona gadis cantik ini, belum lagi kulitnya yang putih dan mulus kayak susu bikin siapa aja nggak bisa berkedip kalau lagi liat dia, belum lagi otaknya yang lumayan smart kalau lagi terdesak saat ulangan, tapi kalau hari-hari biasa dia lebih sering lemotnya.. eittss jangan salah.. sikap lemot plus tampang innocent dan selera humornya inilah yang paling banyak disuka para cowok-cowok disekelilingnya. Kalau dihitung-hitung mantannya sudah melebihi angka lima puluhan udah mau nginjek angka seratus… wiihh seharusnya dibikin reword buat Eri, memecahkan rekor sebagai cewek yang punya mantan terbnyak.
Eri nggak pernah lama menjalani hubungan, yang paling beruntung adalah Dodi, dia bisa berpacaran dengan Eri hampir satu bulan. Tapi sayangnya sebenarnya saat berpacaran dengan cowok itu Eri juga sedang menjalankan hubungan dengan beberapa cowok lain. Begitu pula sekarang, Dia menjalin hubungan dengan beberapa cowok sekaligus dalam waktu yang bersamaan.
Meskipun para cowok tahu itu, entah mengapa mereka tetap berbondong-bondong mengejarnya, maybe karena walaupun Eri seorang playgirl tapi dia nggak sama seperti PG yang lain, yang bisa dengan mudah didapatin dan dipegang-pegang. Untuk mendapatkan Eri mereka diberi tes terlebih dahulu oleh cewek ini barulah setelah itu dipertimbangkan cocok atau tidak dan sampai sekarang cowok-cowok yang menjabati posisi sebagai pacar Eri belum ada yang pernah berhasil menyentuh tubuhnya, sedikit pun. Ingat ya sekali lagi SEDIKITPUN. Terkadang Eri merasa nggak enak ama mantan-mantannya, karena secara tidak langsung Eri mungkin telah menyakiti sedikit banyak perasaan mereka. Tapi Eri selalu mencoba menepis semua rasa bersalah itu, toh cowok-cowok itu yang ngejer-ngejer Eri dan lagi dia nggak berniat menyakiti siapapun, baginya dengan punya pacar rasa kesepiannya yang selalu ditinggal keluarga menjadi sedikit berkurang.
Satu-satunya cowok yang dapat terus menempel dengannya adalah Ferry Hamilson – biasa dipanggil Ferry, teman Eri sejak SMP. Cowok ini benar-benar beruntung, bisa terus berjalan bersama Eri dan bisa memegang Eri (cuma pegang yang biasa… sahabat..)
“Eri.. serius.. Doni gimana?? Kasian tau dia..” kata Ferry
“Ah bawel… Dia udah gua putusin seminggu yang lalu!!” jawab Eri malas.
“Haahhh!!! Serius lo!! Dan sekarang lo udah dapat yang baru!! Eriiii lo nggak pernah tobat ya?? Haha… gua aja udah tobat…” kata Ferry membanggakan dirinya sendiri yang sudah berhasil menghentikan sifat playboynya setelah bertemu dengan jessie Rachelia teman Eri dari kecil, kata orang. Inget ini kata orang bukan kata Ferry.
“Aaahh… ntar aja tobatnya tunggu gua udah bener-bener nemuin cowok idaman gua.” Kata Eri.
“Waduuhhh… Pagi-pagi gini udah jalan berdua… cemburu loh gua…” kata jessie yang tiba-tiba menengahi Eri dan Ferry.
“Ya ampun honey… Jangan salah paham gitu dong…” kata Ferry kepada Jessie.
“Haha… siapa juga yang salpam ama elo honey… gua cuma kidding doang kok… gua kenal kok ama Eri..”
“Gua juga kenal ama lo…” jawab Eri garing.
“Haha… Eri… Gimana… lo terima nggak Mike??”
“Masih masa percobaan…”
“WHATT!! Udah hampir dua minggu dan lo bilang masih masa percobaan?? Emang bener-bener gila lo… Tega bener…  Lo jangan-jangan…” Eri segera menutup mulut ember Jessie, Dia tahu Jessie selalu nggak bisa menahan ucapannya setiap didekat Ferry.
“Jessie!! Jangan ember sekarang!!” bisik Eri sangat pelan, begitu pelannya sehingga dia yakin bahwa hanya dia, Jessie dan Tuhan yang tahu.
“Iya.. iya.. sorry Eriku cuyung… gua nggak bakal ember.. gua cuma mau bilang jangan-jangan lo cuma lagi mainin dia ya??” bisik Jessie tidak kalah pelannya dengan Eri.
“Owwhh… Ya kali…” jawabku datar.
“Hah?? Really??” Tanya jessie.
“Iya Eci cuyung… kalau lo nggak setuju gua terus mainin dia… hari ini bakal gua tinggalin kok dia.” Kata Eri dan langsung menarik kedua tangan temannya itu.
Eri dan Ferry mengantar jessie kekelasnya terlebih dahulu baru mereka berdua menuju kelas mereka. Jessie berbeda kelas dengan mereka, Eri dan Ferry duduk dikelas IA II, sedangkan Jessie dikelas IS III. Sebenarnya Jessie juga anak IA, tapi dia malah lebih memilih IS sebab IS adalah jiwanya dan keluarganya kata Jessie saat ditanya alasannya memilih IS.

JJ

Sepulang sekolah, digudang belakang.
“Sorry Mike… tapi sepertinya kita nggak cocok. Lo nggak tahu gua, so mending kita berteman aja.” Kata Eri dengan senyuman manisnya, ini adalah cara Eri meninggalkan korban-korbannya.
“Tapi Ri…”
“Mike… Cinta nggak bisa dipaksa… lo pasti bakalan dapet cewek yang lebih baik dari gua.” Kata Eri sambil memasang senyum manisnya plus tampang Innocentnya yang selalu sukses membuat para cowok jadi nggak tega ama dia.
“Lalu kenapa lo nerima gua?!!” jawab Mike sambil mencoba tetap lembut.
“Gua nggak pernah nerima elo?? Kan lo masih dalam masa percobaan, dan ternyata hasilnya nggak cocok… sorry banget ya Mike… lo boleh marah ama gua kok kalau lo mau…” jawab Eri lagi kali ini dengan tampang sok bersalah.
“Ohh… gitu ya Er… Gua nggak marah kok ama lo, mana mungkin gua marah ama cewek manis kayak lo. Maybe emang kita nggak cocok.” Ucap Mike dengan senyum kecewa. “Ehmm..But, maybe.. engh do you want to make a friend with me? Yaeh.. kalau temenan boleh dong sapa tau aja tiba-tiba lo berubah fikiran.” Lanjutnya sambil tetap tersenyum pada Eri.
Eri hanya tersenyum pertanda bahwa ia setujuh-setujuh aja.

Cinta sesuatu yang sangat sulit dimengerti, kata orang cinta itu indah tapi ada juga yang mengatakan cinta itu sakit, kalau dibuku cinta butuh pengorbanan. Bagi Eri semua hal itu omong kosong, karena gadis manis itu sebenarnya belum pernah mengerti arti cinta sesungguhnya, bagi Eri cinta itu adalah sebuah permainan. Ia selalu berfikir Apa itu cinta dan mengapa ada cinta?? Sepenting apakah cinta? Toh cinta cuma bikin cewek nangis kalau putus?? Cinta juga nggak bisa dimakan??

“Eri… lo hari ini ada kerjaan?? Kalau nggak ada ikut jalan ama gua dan Jessie aja… mau???” tawar Ferry.
“Ahh.. nggak ahh Fer. Gua mau langsung pulang aja, badan gua rasanya nggak enak banget.” Jawab Eri.
“Lo nggak apa-apa kan Ri?? Kalau nggak enak badan ya udah biar gua anter lo balik ya??” tawar Ferry cemas.
“Nggak perlu, gua bisa balik sendiri. Mending lo langsung nemuin eci, dia pasti lagi nungguin lo.” kata Eri santai.
“Hmm… eah udah deh kalau itu mau lo. gua nurut deh…” Ucap Ferry malas tapi tetap saja ia tidak bisa mengabaikan Eri. Walau demikian Ferry nggak pernah ngebantah ucapan Eri. Baru beberapa langkah Ferry berjalan namun tiba-tiba saja semua siswa disana berlari kearah parkiran mobil. Rasa cemas bercampur takut kini mulai berkecamuk dihati Ferry, ia pun langsung menerobos kerumanan orang-orang itu ternyata benar firasatnya. Eri terkapar pingsan tak sadarkan diri, Ferry langsung saja mengangkat tubuh Eri dan memasukkannya kedalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan Hp Ferry terus saja berdering namun Ia tak memperdulikan hal itu sama sekali, ia terus saja menyetir mobil dengan kencang.

“Er… gua harap lo nggak kenapa-napa..” harap Ferry seraya menunggu dokter keluar dari ruangan Eri.
Lagi-lagi Hp Ferry berdering akhirnya dengan perasaan sedikit dongkol ia merogoh Hp yang berada didalam saku seragamnya, Jessie.. ternyata sang pacarlah yang sedari tadi meneleponnya tanpa henti.
“Halo..” ucap Ferry dengan malas.
“Halo, say lo dimana? Kok nggak jemput-jemput gua? Lo lupa ama acara nonton kita? Napa nggak calling gua? Gua dari tadi nungguin lo ampek lumutan…..” Jessie terus saja menghujani Ferry dengan rentetan pertanyaan yang panjangnya udah kayak kereta api ekspress.
“Sorry gua sibuk, lo balik aja. Oh ya gua nggak bisa jemput lo sekarang so mending lo naik taksi or lo calling aja supir lo” Ucap Ferry cepat kemudian segera menekan tombol EndCall.
“Apakah anda keluarga pasien ini?” Ucap dokter.
“Engh… saya.. saya pacarnya dok.” Jawab Ferry asal. Bukan asal sih, dia emang pacarnya Eri tapi dulu sebelum putus jadi nggak salah dong.
“Owh.. apa tidak ada keluarganya?” ucap dokter sambil menepuk-nepuk pundak Ferry.
“Di Jakarta dia cuma tingggal ama pembantu-pembantunya doang. Orang tuanya baru aja balik ke Amrik pagi tadi. Kakaknya lagi nggak di Jakarta, memang kenapa dok?” Ucap Ferry.
“Oh, kalau begitu ya sudah. Nak Ferry saja…” Bingung kenapa tuh dokter tau nama Ferry padahal dia belum ngasih tau namanya… ya jelas aja dokter itu tau nama Ferry kan itu rumah sakit milik bokapnya Ferry yang nantinya bakal diwarisin kedia so semua suster ama dokter disana kenal ama dia.
“Sebenernya ada apa dengan Eri dok?” tanya Ferry.
“Tenang.. Tidak ada yang berbahaya kok. Nampaknya pacar anda cuma kelelahan saja, mungkin dia punya sedikit masalah dengan jam tidurnya atau mungkin lagi banyak fikiran.” Jelas Dokter.
“Syukurlah kalau Eri nggak kenapa-napa!” kata Ferry lega “Apa saya sudah boleh menjenguk Eri, Dok?” Lanjutnya.
“Oh tentu saja, silakan.” Kata dokter mempersilakan Ferry.

Pintu ruangan itu terbuka, sayup-sayup Eri melihat seorang cowok tampan - yang rada Indo juga – masuk kedalam ruangannya.
          “Dokter bilang apa?” Tanya Eri pada cowok tersebut.
          “Kata dokter lo cuma kecapean doang, dokter juga bilang lo kurang tidur. Ngapain aja sih lo tiap malam ampek kurang tidur kayak gini.. Ngeronda??” Ucap cowok tersebut asal.
          “Ah elo Fer… bisa aja.. gua nggak ngeronda.. jaga lilin, biasa jagain eci biar nggak digebukin masa.. hehe” Eri ikut-ikutan ngaco. “Gua udah boleh pulang kan?” tanya Eri namun Ferry nggak ngejawab, dia hanya asik tertawa hal itu bikin Eri dongkol.
          “Haha.. iya-iya… lo udah boleh pulang sekarang…” ucap Ferry. Jawaban itu membuat Eri menjadi lega karena dengan begitu dia nggak perlu nginep di Rumah sakit, Eri kan takut ama rumah sakit. Apalagi kalau malam-malam.. iihh nyeremin…

JJ

Sesampainya dirumah.
“Hati-hati, lo kan masih sakit.” Ujar Ferry sambil membukakan pintu mobilnya buat Eri.
“Iya-iya, dasar bawel lo. Tenang aje.” Ucap Eri sambil tersenyum manis pada Ferry. “Engh.. Eci gimana? Dia pasti marah kalau tau lo nggak jadi nonton ama dia because of me.” Lanjut Eri kali ini dengan mimik kecewa yang tersirat diwajahnya.
“Hugh.. udah kayak gini masih aja mikirin orang. Bagi gua yang penting lo nggak kenapa-napa.” Ucap Ferry sambil membelai lembut rambut Eri, kemudian berpamitan pulang.
“Oh iya kata dokter lo nggak boleh kecapean” teriak Ferry dari dalam mobilnya, Eri hanya tersenyum melihat kelakuan Ferry.

To be continued...

Sabtu, 24 Maret 2012

Good Bye Love


Good Bye Love
Cerpen, karya : Sintia Rizkha (XI.IPA.1)

            “Melamun terus!! Kesambet ntar loh..” ucap Ana menyadarkan lamunanku. Aku tetap hanya melemparkan senyuman termanisku kearahnya dan kembali berkhayal.
“Masih mikirin cinta monyet lo itu??” ucap Ana kembali bertanya, aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya kembali seraya orang dewasa yang sedang frustasi.
“Chiya..??!!! Jangan bikin orang kesel deh!!” Ana mulai naik darah, tanpa sadar aku mulai tertawa dan memeluk sahabat setiaku itu. Aku mengajaknya turun dari rumah pohon kenangan, yeah kuberi nama seperti itu untuk mengenang kenanganku bersama dia disana.
#Skip
Aku berjalan menuju sebuah ruangan, berjalan dengan lambatnya hingga suara telapak kakiku sendiri tak mampu kudengar. Kubuka pintu ruangan itu dengan amat sangat pelan sehingga tidak menimbulkan suara, kugeledah seisi ruangan. Tak ada satu sudutpun yang aku tinggalkan namun tak ada yang bisa kutemukan. Tiba-tiba mataku tearah kesebuah laci meja, laci yang sering ayah tutup dengan cepat kalau aku masuk keruangan ini dengan tiba-tiba. Segera kubuka laci itu, kosong tak ada apa-apa kecuali selembar foto. Dua orang lelaki paruh baya tersenyum ceria difoto tersebut, aku tahu yang besar adalah ayahku tapi yang disampingnya siapa? Oom Mukiran? Yeah tidak salah lagi dia Oom Mukiran, bukankah dia ayahnya… Aku segera membalik-balik foto tersebut berharap masih ada yang bisa kutemukan. Alamat???
Kuraih gagang telepon tersebut dan segera menekan sebuah nomor yang sudah sangat kuhapal sekali. “Halo?” sapa seorang wanita dari seberang telepon.
“Ana!! Ini gue… Dapet… Dapet An.. gue berhasil…” kataku riang bercampur tangis. Sementara Ana diseberang telepon kebingungan dengan tingkahku.
#Skip
Kuhentikan mobilku tepat didepan sebuah rumah yang sudah terlihat tua, nampaknya aku mengenal rumah itu. Rumah yang dulu sering kukunjungi saat sedang jenuh, rumah tempat dia dibesarkan. Aku melirik Ana yang terduduk disampingku, dari raut wajahnya aku tahu kalau sahabatku ini merasa ragu. Aku segera menatapnya yakin, kemudian beranjak keluar dari dalam mobil dan Ana pun mengikutiku dibelakang. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menemukan dimana tempat bel dipagar tua tersebut. Selang beberapa menit setelah aku menekan bel tersebut keluar seorang wanita paruh baya dari dalam rumah tersebut, wanita yang kira-kira umurnya jauh lebih tua dari ibuku. Wanita yang sangat kukenal dulu. Wanita tersebut mempersilakan aku dan Ana untuk masuk. Tak ada yang berubah dari rumah ini, suasananya masih nampak seperti dulu. Bahkan ayunan dan kursi tamannya tatap sama dan sudah nampak terlihat usam dimakan waktu.
“Oom Mukiran mana tante?” tanyaku memecah keheningan yang tadi sempat tercipta.
“Dia lagi tugas…” jawab tante Ernie ramah, masih sama seperti dulu walaupun dia sudah tua. “Kamu mau minum apa Chiya? Engh.. dan yang satunya?? Maaf siapa yah, tante lupa nanya..”ucapnya lembut sambil tersenyum manis.
“Aku apa aja deh tan, es jeruk kayak dulu juga nggak apa-apa. Ooo kalau dia Ana, temanku, minumnya samain aja dengan aku biar tante nggak repot.” Kataku sambil tersenyum renyah “Oh yah… Bang Zikri mana tante?” lanjutku sambil mencari-cari sosok orang yang kutanyakan itu.
Tante Ernie tampak sangat murung mendengar pertanyaanku itu, aku mulai merasa ada sesuatu yang aneh. Awalnya tante Ernie hanya diam namun pada akhirnya dia bersedia memberitahuku dimana Bang Zikri kini berada.
“Apa?!! Nggak mungkin tante. Kenapa Bang Zikri bisa berada ditempat seperti itu??”
“Tante nggak punya hak untuk menceritakan semuanya kekamu Chiya, biarlah Zikri yang menjelaskan semuanya nanti setelah kalian bertemu kembali.”
#Skip
Disinilah aku sekarang, disebuah sekolah tepatnya asrama anak-anak nakal. Semua anak yang melakukan onar disekolahannya biasanya dikirimkan orang tuanya kesini untuk di didik, tapi Bang Zikri, apa mungkin orang tuanya mengirim Bang Zikri ketempat seperti ini? Bang Zikri kan bukan anak yang badung.
Kutelusuri koridor demi koridor, mencari kamar Bang Zikri yang katanya terdapat dilantai paling atas. Kutemukan sebuah pintu diujung koridor, kubuka pintu itu dengan perlahan mataku menangkap sosok seorang lelaki yang sedang duduk murung didekat jendela bulat. Cowok tersebut menatap kosong keluar jendela, membuatku jadi ingin menangis saat melihat tatapan itu.
“Bang Zikri…” Ucapku lirih seraya meneteskan air mata sambil berjalan kearahnya “Bang… Bang Zikri kenapa?? Kok bisa ada disini?” lanjutku dan terus mendekatinya dengan air mata yang berlinang dipipiku. Namun cowok itu tetap diam dan hanya menatap kosong kearahku, tatapannya seperti tatapan seorang kriminal beneran.
“Ini aku Bang… Abang inget Chiya kan, cewek cengeng yang suka Abang bela waktu kecil, cewek cengeng yang suka ngerepotinAbang, cewek cengeng yang ingin selalu bersama Bang Zikri” Air mataku semakin berlinang mengucapkan semua kalimat itu, aku berdiri tepat dihadapannya, namun dia tetap saja diam dan menatap kosong kearahku. Aku tak kuat melihat semua itu, aku segera memeluk erat tubuh Bang Zikri, tak berapa lama aku merasakan bahwa Bang Zikri membalas pelukkanku. Ia segera memandangku dan menghapus air mataku, Ia tersenyum seperti tak pernah ada tatapan kosong yang tadi baru saja kulihat.
“Jangan cengeng lagi… kamukan udah janji sama Abang…” ucap Bang Zikri sambil tersenyum padaku. Senyum yang selama ini kucari, Senyum yang selama ini kunanti.
Hari demi hari berlalu. Bang Zikri kembali ceria, orang tua Bang Zikri nampak sangat senang melihat perubahan itu, tapi dilain pihak nampaknya mereka merasa cemas entah karena apa. Belum lagi aku merasa ada yang aneh dari Bang Zikri, dia terlihat semakin kurus dan agak pucat.
#Skip
“Ini apa Bang..” tanyaku ragu sambil memperlihatkan obat-obat yang kutemukan dibawah bantal Bang Zikri pagi tadi saat merapikan kamarnya. Bang Zikri tak menjawab sama sekali, Ia hanya tersenyum sedih bercampur miris melihat obat-obat itu.
“Apa Abang sakit? Abang sakit apa? Kasih tahu Chiya! Apa yang nggak Chiya ketahui..” kataku mulai menangis, aku telah mengecek obat itu kata dokter itu obat penghilang rasa sakit tapi sakit apa? Air mataku semakin mengalir deras. Bang Zikri segera menghapus air mataku dengan kedua tangannya.
“Yeah Chiya.. Abang sakit, aku sakit, aku mengidap kanker otak.” Kata Bang Zikri sambil tetap mencoba tersenyum kepadaku.
“Kenapa Abang nggak Operasi?? Stadium berapa Bang??” kataku lirih sambil menahan air mataku yang ingin mengalir.
“Mama juga pernah kasih saran kayak gitu, tapi Abang menolaknya. Karena Abang tahu kalau Abang dioperasi kemungkinan operasinya sukses sangat kecil karena kondisi abang yang seperti ini, kalau gagal artinya abang nggak bakal bisa nemuin Chiya lagi dan Abang nggak mau itu, Abang nggak bisa melupakan kamu walau hanya sedetikpun.” Ucap Bang Zikri sambil tetap terus mencoba tersenyum. “Huh.. dan sekarang udah stadium empat, haha nggak kerasa yeah…” lanjut Bang Zikri sambil tertawa sendiri, dan aku hanya bisa menangis memeluknya mendengar semua kalimat yang baru saja ia lontarkan.
#Skip
Aku merasa semakin cemas, jantungku berdetak semakin cepat. Kulihat tante Ernie menangis tersedu-sedu di samping Oom Mukiran, keringat dingin mengalir dari tubuhku antara percaya atau tidak orang yang sejak dulu selalu kuat dan terlihat tegar didepanku kini sedang terbaring kaku didalam sana ditolong hidup dengan berbagai alat bantu. Dokter akhirnya keluar dari ruangan itu dan segera memintaku untuk masuk kedalam, aku menoleh kearah tante Ernie dan Oom Mukiran, keduanya mengangguk pertanda kalau mereka mengizinkan aku masuk menemui anak mereka. Aku berjalan perlahan mendekati tempat tidur putih didalam ruangan tersebut. Kulihat Bang Zikri yang sedang terbaring diatasnya dan tersenyum menatapku.
“Abang pasti kuat…” kataku lirih
“Nggak sayang, Abang udah nggak kuat lagi. Abang boleh minta beberapa permintaan nggak sama kamu?” ucap Bang Zikri lemah dan aku pun hanya mengangguk. “Abang minta nanti kalau Abang pergi kamu nggak boleh cengeng lagi, karena Abang udah nggak bisa melindungi kamu. Abang nggak mau melihat kamu disakitin orang lagi.”
“Abang kok ngomong gituh, iya Chiya nggak akan cengeng lagi tapi Abang juga nggak boleh pergi ah.. Abang kuat kok…” kataku sambil tersenyum menahan tangis. Bang Zikri hanya balas tersenyum melihatku.
“Abang mau minta, Engh.. Abang boleh cium kamu nggak? Abang nggak mau first kiss kamu diambil orang, hehe” kata Bang Zikri “Kalau nggak boleh nggak apa-apa kok..Abang..”
Aku segera menutup mulut Bang Zikri, “Abang nggak perlu kebanyakan ngomong, kata siapa nggak boleh..” kataku memotong ucapannya, Bang Zikri tersenyum mendengar ucapanku. Aku mendekatkan wajahku padanya, begitu dekat hingga bibirku menyentuh bibirnya, bibirnya yang terasa amat dingin sekarang. Inilah first kissku, dan aku senang itu kuberikan untuknya. Sebagai hadiah terkhirku.
“Terima kasih… Chiya sayang…” Ucap Bang Zikri yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman yang merekah diwajahnya.
#Skip
Tante Ernie membawaku kebelakang halaman rumahnya, kebawah sebuah pohon yang rindang. Diatasnya terdapat sebuah rumah pohon,rumah pohon yang dulu sering kunaiki bersama Bang Zikri, aku segera memanjat perlahan sambil mengingat semua kenangan dirumah ini. Kulihat sekelilingku masih tetap sama, rumah pohon ini tetap sama seperti dulu. Kutemukan sebuah kotak kayu usam besar, kubuka kotak kayu tersebut. Kado? Kukeluarkan semua kado itu, kubuka satu persatu dari tahun yang paling lama.

Sepatu balet??
16 NOV 2004
Happy Birthday Chiya, sekarang umur kamu udah 9th. Kapan ya kita bisa ketemu lagi ^_^

16 NOV 2005
 Happy Birthday Chiya, nggak kerasa sekarang kamu udah 10th yeah.. Q makin kangen loh ama kamu…semoga kita bisa cepet ketemu…^_^

Begitu juga kartu ucapan tahun-tahun seterusnya, hingga kutemukan sebuah kartu yang berbeda dari yang sebelumnya.

16 NOV 2008
Happy Birthday Chiya, setiap tahun aku mengucapkan harapan yang sama untuk bertemu denganmu. Begitu pula tahun ini, tapi aku mulai ragu setelah dokter memvonisku terkena kanker otak stadium dua. Aku harap aku bisa bertemu denganmu sebelum penyakit ini mengalahkanku..^_^

16 NOV 2010
Happy Birthday Chiya, ini ultah kamu yang ke 15th yeah, wah kamu sekarang pasti udah besar dan makin cantik, kapan ya kita bisa ketemu lagi?? Penyakit ini kini semakin kuat saja, aku ternyata lemah tanpamu. Bahkan aku sekarang udah resmi jadi anak badung, aku memutuskan untuk masuk sekolah khusus, aku nggak mau melihat orang tuaku cemas karena penyakitku. Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh yea.. aku nggak bener-bener nakal kok…^_^

16 NOV 2011
 Happy Birthday Chiya, Akhirnya aku bisa ketemu lagi ama Qmu. Qmu makin cantik ternyata, ini ultah Qmu yang ke 16th dihari ultahmu ini aku akan mengungkapkan perasaanku. Aku mencintaimu Chiya, sejak pertama kita berkelahi karena aku ngintipin kamu latihan balet, hehe Qmu ingetkan… Qmu mukul kepalaku hingga benjol, semenjak itu aku ngerasa kalau kamu beda dari pada yang lain. Tapi aku ragu, kalau nanti Qmu tahu penyakitku apa kamu bakal tetep nerima aku?? Maafkan aku Chiya, karena telah hadir dalam hidupmu, maafkan aku karena telah menyusahkanmu, maaf karena aku telah lancang menyukaimu, maaf karena aku, kamu akan bersedih… berjanjilah agar kamu tidak menangis lagi, berjanjilah saatku pergi kamu akan tetap tersenyum mengiringi kepergianku, berjanjilah agar kamu tetap menjalankan hidupmu walau tanpa aku disimu…
Aku mohon itu… Aku mencintaimu, selalu dan selamanya…
Salam sayang selalu
“Your Love”


Kak… Makasih banget kak… Chiya Juga CINTA ama Bang Zikri, Chiya sayaaaaannnggg banget ama Abang. Didalam hati Chiya selamnya hanya akan ada Bang Zikri seorang, Abang berjuang, bertahan hidup, menolak untuk dioperasi semua hanya karena Aku, hanya karena abang nggak mau ngelupain aku, walau abang udah nggak ada tapi tetap bang Zikri akan selalu ada dihati Chiya, selalu dan selamanya. Aku akan berjuang meneruskan hidup, terus tersenyum, semua kulakukan demi abang… Love You Forever bang zikri…^_^



Love is just like life, its not always easy and doesn’t always bring happiness.
But when we don’t stop living, why should we stop loving.



L O V E … L= Lake of sorrows … O= Ocean of tears …
V= valley of death … E= End of life …



If you ask for how long I will be loving you?? My answer is I don’t know…
Coz I really don’t know, which is longer.. FOREVER or ALWAYS…