Saat ku tersadar, aku telah berada ditempat yang sangat sepi, didepan sebuah nisan. Hanya ada aku, pria disampingku, dan orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama denganku, serta orang-orang yang tertidur lelap entah sampai kapan. Ditanganku ada sebuah boneka teddy yang sangat cantik. Aku jadi teringat akan masa laluku yang sagat indah sekaligus sedih.
****
Saat itu aku berumur 9 tahun, sepulang sekolah aku dan kakakku selalu berjualan gorengan untuk tambahan uang jajan. Saat sedang berjualan aku terhenti disebuah toko, mataku tertuju pada sebuah boneka teddy yang sangat cantik.
“Dek, ada apa? Kenapa berhenti?” Tanya mas Agus kakakku.
“ehm,,,,,itu mas, bonekanya cantik ya? Aku mau itu mas…”jawabku sambil menunjuk kearah sebuah boneka teddy.
“ah..iya, cantik sekali.” Jawab mas Agus lalu ia melihat harga yang tertera, “Rp 250.000…” ucap mas Agus hampir tak terdengar.
“Dek harganya mahal sekali, kakak gak punya uang sebanyak itu, nanti kakak beliin boneka lain dipasar, ya…..” bujuk mas Agus merayuku.
“Nggak mau….Lusi mau yang itu…!” rengekku pada mas Agus.
“Lusi…” bentak mas Agus
“Mas Agus jahat…Lusi benci Mas Agus!” teriakku.
Aku berlari meninggalkan Mas Agus dan tanpa sadar aku telah tiba didepan panti.
“Lusi…ada apa? Mengapa menangis?” Tanya bu panti.
aku langsung berlari masuk kedalam kamar, tak menghiraukan pertanyaan dari bu panti. Aku memandangi foto kedua orang tuaku yang telah meninggal 1 tahun yang lalu.
“Seandainya mama sama papa masih hidup sekarang….” Tangis ku dalam kamar sendirian.
****
Tak lama kemudian Mas Agus tiba dipanti.
“Gus…ada apa dengan Lusi? Mengapa dia menangis?” Tanya bu panti kepada mas Agus.
“ Itu bu… Lusi tadi minta dibeliin boneka teddy, tapi Agus gak mau beliin, habis harganya mahal sekali” jawab mas Agus.
“Kalau begitu biar Ibu yang belikan bonekanya.” Lanjut Bu panti.
“Jangan Bu! Kalau Ibu yang belikan nanti anak-anak yang lain iri dan minta dibelikan juga, biar Agus saja yang belikan.” Jawab Mas Agus.
“Kamu memang anak yang baik Gus…” puji Bu panti.
Malam harinya aku tetap saja tidak mau keluar dari kamar.
“Lusi…ayo keluar, makan dulu! Dari tadi siang kamu belum makan sama sekali, nanti sakit lho!” bujuk Bu panti.
“Nggak mau, Lusi nggak mau makan!” teriakku dari dalam kamar.
“Lusi keluar ayo makan, kalau kamu makan Mas janji, Mas akan belikan kamu boneka tadi” Ucap Mas Agus dengan lembut.
“bohong…” teriakku tak percaya.
“Bener, Mas janji. Maaffin Mas deh soalnya Mas tadi sudah bentak kamu. Ayo keluar makan Mas gak akan bohong deh.”
Aku segera keluar setelah mendengar ucapan Mas Agus tadi. Aku membuka pintu dengan perlahan.
“Mas janji kan?” Tanyaku ragu.
“Iya, Mas janji!” Jawab Mas Agus meyakinkanku. “tapi Mas kumpulin dulu uangnya…nanti kalau sudah cukup baru kita beli, okey!” lanjut Mas Agus.
“Ehm…” anggukkku senang.
“Nah, sekarang kamu makan ya…” rayu Mas Agus.
“iya…lagian aku juga sudah laper dari tadi…” jawabku dengan wajah yang sangat gembira.
“Hahaha…..dasar kamu memang adik Mas yang ngegemesin…” ujar Mas Agus.
****
Akhirnya demi mewujudkan keinginanku Mas Agus menambah pekerjaannya. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah Mas Agus mengantar susu dan Koran, siangnya ia berjualan gorengan dan majalah, sorenya ia bekerja sebagai tukang sapu jalan, dan malam ia mengerjakan Pr. Aku merasa bersalah kepada Mas Agus. Aku merasa kalau aku egois, tapi aku tidak bias menahan keinginku untuk memiliki boneka itu.
Aku menghampiri Mas Agus yang sedang mengerjakan pr. Aku segera memijat pundaknya dengan jari-jari kecilku,
“Capek ya Mas?” tanyaku dengan perasaan bersalah.
“Ah, enggak terlalu” jawab Mas Agus lembut.
“Masih lama ya Mas?” tanyaku lagi dengan suara yang pelan.
“Tinggal sedikit lagi, sabar ya dek” jawab Mas Agus.
Aku terdiam, tak berani bertanya lagi, aku tak sanggup melihat Mas Agus yang kesusahan karna aku. Yang bisa kulakukan hanyalah terus memijat Mas Agus yang terlihat sangat lelah.
****
Beberapa hari kemudian, Mas Agus berlari menghampiri aku,
“Dek, uangnya sudah terkumpul” kata Mas Agus riang.
“Ah…benarkah, kalau begitu ayo kita segera ketoko itu Mas…” jawabku tak sabar.
“Lusi enggak usah ikut, biar Mas sama Ibu panti saja yang beli, kamu tunggu dipanti saja” perintah Mas Agus padaku.
“ya deh, tapi jangan lama-lama ya Mas” jawabku
“iya adekku yang manis….Mas gak akan lama-lama..” ucap Mas Agus.
Mas Agus segera pergi bersama Bu panti untuk membeli boneka yang aku inginkan. Tak lama kemudian Bu panti kembali dengan membawa boneka teddy yang cantik. Aku segera menghampiri bu panti dan memeluk boneka teddy yang sangat kuinginkan itu.
“Mana Mas Agus Bu?” Tanya ku heran melihat Bu panti kembali sendirian.
“Enggak mungkin, Mas Agus gak mungkin meninggal, Ibu’ bohong!” bantahku tak percaya.
“Itu benar si, saat dijalan tadi kakakmu menghitung ulang uang yang ia dapatkan, tapi tiba-tiba ada orang yang mengambil uang itu. Kakamu mengejarnya, mereka berkelahi dijalan. Kakakmu berhasil mendapatkan uangnya kembali, tapi dari arah barat muncul sebuah mobil yang melaju dengan kencang dan menabrak kakakmu. Sebelum kakakmu meninggal ia memberikan uang itu, ia menyuruh Ibu untuk membelikan boneka yang kamu inginkan, ia juga memberi Ibu sebuah surat untukmu. Surat ini rencananya ingin diberikan kakakmu bersama boneka teddy ini” jelas Bu panti.
Aku segera membaca surat itu.

“Lusi, adek Mas yang manis.
Ini boneka yang Mas janjikan, Mas harap dengan boneka ini
kamu menjadi lebih rajin belajar ya,,,dan menjadi orang yang pintar.
Lusi harus janji sama Mas kalau Lusi nggak akan malas lagi.
Mas akan ngelakuin apapun untuk kamu Lusi…
Karna Mas sayang Lusi.”
Salam penuh cinta
‘Mas Agus’
“Mas Agus………..” teriakku sekuat tenaga.
“Mengapa Mas Agus ninggalin Lusi, Lusi sekarang gak punya siapa-siapa lagi, Lusi sekarang sendirian…..” tangisku.
“Lusi…jangan menangis lagi, biarkan kakakmu pergi dengan tenang, nak” ucap Bu panti sambil memelukku yang terus saja menangis.
“Kenapa aku egois, tak seharusnya aku minta boneka ini, aku tak mau jika aku tau akhirnya seperti ini. Lusi gak mau boneka ini Mas, Lusi mau Mas. Lusi masih mau bersama mas, Lusi gak akan minta yang aneh-aneh lagi. Mas Lusi janji. Mas agus…..” tangisku menyesali semua keinginanku…... aku terus saja menangis, badanku terasa lemas, dan akhirnya aku tak sadarkan diri.
****
Tiga bulan setelah kematian Mas Agus. Ada sepasang suami istri kaya yang ingin mengadopsiku, karena mereka tidak bisa punya anak. Aku mengambil kesempatan ini untuk mewujudkan keinginan Mas Agus, aku menerimanya dengan senang hati.
****
“Heh…Masa lalu yang sangat bahagia sekaligus sedih” fikirku dalam hati.
Aku berdiri didepan nisan kakakku, Mas Agus.
“Mas sekarang aku sudah besar, aku sudah semester 8, sebentar lagi aku akan menjadi seorang dokter.”
“Terima kasih Mas sudah menjagaku dulu. Aku membawa calon suamiku kami akan menikah setelah aku lulus nanti. Teddy juga ada disini.” Aku menunjukkan sebuah boneka teddy yang telah usang. Tapi walaupun boneka ini telah usang aku tak akan pernah membuangnya karena ini adalah hadiah pertama dan terakhir dari kakakku yang paling berharga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar